Aku Muslim Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafy, ini adalah pilihanku, tapi…..

Aku Muslim Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafy, ini adalah pilihanku, tapi aku tidak suka mentahdzir, menghina, melecehkan, menjelek-jelekkan dan semisalnya terhadap sesama muslim lainnya.

Semua umat Islam adalah saudaraku.

Aku suka saling mengingatkan dan saling menasehati serta saling mendoakan.

Aku berharap kita semua sama-sama masuk Jannah.

Ada kesalahpahaman tentang Salafy oleh sebagian yang mengaku sebagai Salafy, yaitu pemahaman bahwa seseorang itu disebut sebagai Salafy apabila ia keras dan kasar dalam dakwahnya, semakin keras dan kasar berarti semakin Salafy. Ini adalah pemahaman yang salah dan tidak bisa dibenarkan. Justeru yang seharusnya terjadi adalah seseorang disebut sebagai Salafy jika semakin pandai berlemahlembut dalam dakwahnya.

Allah Ta’ala barfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (QS 48 Al Fath ayat 29).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya sifat lemah lembut itu apabila ada pada sesuatu maka menjadikannya indah. Dan tiadalah dicabut dari sesuatu melainkan menjadikannya buruk”.
(Hadits Shahih).

Realita yang ada saat ini adalah terjadi saling menghujat, fitnah dan bahkan menghancurkan diantara sesama muslim bahkan sesama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sesama ustadz, sesama da’i, sesama Thullabul ‘Ilmi (penuntut ilmu agama). Metode dakwah yang diterapkan adalah metode menejemen konflik, yaitu agar supaya dakwahnya laku maka cara yang dipakai adalah menghancurkan dakwah saudaranya sendiri. Persaingan tidak sehat dan penuh kecurangan. Sehingga akibatnya terjadi pecah belah. Dakwah yang telah dibina dan menjadi besar berubah menjadi kecil karena terpecah. Pecahannya pecah lagi, pecahannya pecah lagi dan pecahannya pecah lagi, demikian seterusnya. Semakin pecah dan semakin kecil sehingga Islam yang luas menjadi seperti kotak yang teramat sangat kecil. Para pengemban agama dan Thullabul ‘Ilmi berwajah sinis, sangar dan seram serta sangat jauh dari akhlakul karimah. Semakin rajin belajar agama justeru semakin buruk akhlaknya, busuk lidahnya dan jahat perangainya serta buta hatinya. Semakin bertambah ilmunya semakin bertambah kesombongan dan kecongkaannya. Merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar. Murid-murid berani melawan ustadznya dan bahkan menghujat dan mentahdzir ustadznya sendiri. Kacang lupa kulitnya. Manusia-manusia yang tidak mempunyai kesetiaan dan tidak pernah menghargai kebaikan.

Benarkah Islam mengajarkan seperti ini..?!
Benarkah ini ajaran Salafush Sholeh..?!
Inikah ilmu yang bermanfaat..?!
Lupakah mereka dengan hari pembalasan..?!
Apa yang mereka cari..?!
Inikah hasil ilmu dan ngaji..?!
Oohh, alangkah buruknya..?!
Mungkinkah Allah me-ridhai..?!

Ini adalah renungan untuk kita semua supaya waspada untuk tidak menjadi seperti itu. Agama Islam itu indah dan nikmat apabila kita IKHLAS mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dipahami dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman Salaf Ash-Sholih dari kalangan para Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Penyakit kronis yang harus segera disembuhkan adalah merasa diri dan kelompoknya paling Salafy dan seakan dakwah salaf ini ibarat sebuah perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh orang atau kelompok tertentu yang dengan seenaknya memasukkan atau mengeluarkan siapa saja dari Salafy.

Dua faktor yang menjadi sumber permasalahannya, yaitu;

1. Hawa nafsu.
2. Kepentingan.

Selama hawa nafsu dan kepentingan masih dikedepankan maka perpecahan akan terus terjadi.

Sekali lagi, aku adalah Muslim Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafy, ini adalah pilihanku, tanyakan kepada murid-muridku dan siapa saja yang mengenal aku.

Islam dan Sunnah adalah pilihanku, diantara doa yang setiap hari aku panjatkan kepada Allah adalah agar Allah menjadikanku istiqamah dalam Islam dan Sunnah dan mewafatkanku dalam Islam dan Sunnah, yaa Robb..

Semoga Bermanfaat.

Malang,
Senin 16 Rabi’ul Awwal 1437 / 28 Desember 2015

Hamba Allah yang selalu berharap petunjuk, ampunan dan kasih sayangNya
Abdullah Sholeh Hadrami
@AbdullahHadrami

Berkata Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah: “Aku belajar adab tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu dua puluh tahun. Dan mereka dahulu [para salafush shaleh] belajar adab dahulu sebelum belajar ilmu”. [Ghayatun Nihayah Fi Thabaqaatil Qurraa' 1/198].

Berkata Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah:
“Aku belajar adab tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu dua puluh tahun. Dan mereka dahulu [para salafush shaleh] belajar adab dahulu sebelum belajar ilmu”.
[Ghayatun Nihayah Fi Thabaqaatil Qurraa’ 1/198].

3 Comments

Tinggalkan Balasan ke lestariir Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.