Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Kewajiban Kita Terhadap Palestina (bag 2)

Sungguh sangat memilukan dan menyedihkan melihat saudara-saudara kita se-aqidah dihinakan dan dilanggar kehormatan mereka. Mereka menangis didepan mata kita atas ulah kaum yang dimurkai Allah pembunuh para Nabi –Alaihimus Salam dan merupakan manusia yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang Islam, yaitu Zionis Yahudi yang menjajah dan mencengkeram masjid Al-Aqsha dan bumi Palestina.

Disisi lain kita melihat ketidakpedulian kaum muslimin terhadap permasalahan yang sedang terjadi di bumi Palestina dan mereka menganggap bahwa agama Islam itu hanya cukup dengan mengerjakan shalat lima waktu, membayar zakat, puasa Ramadhan, umrah dan haji dan ibadah-ibadah ritual lainnya.

Pemahaman seperti ini telah merasuki sebagian dari kaum muslimin saat ini sehingga mereka bersikap pasif tanpa terketuk hati mereka untuk menolong saudara mereka sesama muslim yang teraniaya.

Kewajiban para ulama’ adalah meluruskan pemahaman yang salah ini dan selalu mengingatkan kaum muslimin akan kewajiban mereka terhadap saudara-saudara mereka sesama muslim dan hendaklah para ulama’ menjelaskan hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan masalah saling tolong menolong ini.

Sesama orang beriman adalah saudara, sebagaimana dalam surat Al-Hujuraat ayat 10. Juga telah disabdakan oleh Rasulullah Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam riwayat Muslim bahwasanya sesama orang Islam adalah saudara, tidak mendzaliminya, tidak membiarkannya tanpa menolongnya dan tidak pula menyerahkannya kepada musuhnya. Wajib atas sesama muslim untuk menolong saudaranya yang teraniaya.

Apabila kita tidak menolong saudara kita sesama muslim berarti kita termasuk orang yang mendurhakai Allah dan RasulNya, berarti kita membiarkannya tanpa menolongnya, berarti kita menyerahkannya kepada musuhnya dan berarti keIslaman dan keimanan kita belum benar dan belum sempurna.

Kewajiban kita terhadap saudara-saudara kita di bumi Palestina adalah sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam riwayat Abu Dawud dengan sanad sahih, “Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, dengan jiwamu dan dengan lisanmu.”

Beliau juga bersabda dalam riwayat Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang memberikan persiapan untuk orang yang berperang di jalan Allah berarti ia juga turut serta berperang. Dan barangsiapa yang menjaga dengan baik keluarga orang yang berperang berarti ia juga turut serta berperang.”

Dalam sabda yang lain riwayat Muslim, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan belum pernah berperang dan tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk berperang (membela Islam), maka ia mati dalam keadaan ada cabang kemunafikan (dalam dirinya).”

Dari riwayat-riwayat tersebut jelas sekali tata cara menolong saudara-saudara kita yang tertindas di bumi Palestina, yaitu dengan berjihad bersama mereka melawan musuh. Jihad dengan harta, yaitu menginfakkannya untuk kepedulian terhadap mereka. Jihad dengan jiwa, yaitu ikut serta berperang di medan perang. Jihad dengan lisan, yaitu dengan membicarakan dan menulis permasalahan Palestina agar kaum muslimin selalu ingat dan sadar akan kewajiban mereka terhadap saudara-saudara mereka di bumi Palestina.

Beruntunglah orang yang membantu mereka karena Rasulullah Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam telah bersabda sebagaimana dalam riwayat At-Tirmidzi dan beliau mengatakan sanadnya hasan, “Barangsiapa menginfakkan suatu nafkah di jalan Allah, ditulis untuknya tujuh ratus kali lipat.”

Kita juga bisa merealisasikan pertolongan kita terhadap mereka dengan berbagai cara dan sarana lainnya seperti berdoa untuk mereka dan ini adalah merupakan bagian dari iman yang paling lemah, karena itu tidak ada alasan lagi untuk tidak berdoa memohon kepada Allah pertolongan untuk mereka dan kekalahan untuk musuh mereka.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin yang tertindas dimanapun mereka berada.. Ya Allah, bebaskan saudara-saudara kami kaum muslimin yang berada dalam tawanan.. Ya Allah, merdekakanlah Masjidil Aqsha dari cengkeraman Yahudi yang telah merampasnya dan kembalikanlah Al-Aqsha ke pangkuan kaum muslimin.. [Abdullah Shaleh Hadrami/ASH].

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.