Yaman; Target Amerika Selanjutnya?

Konflik Yaman kembali memanas pasca meningkatnya eskalasi serangan dari pemberontak di Utara Yaman yang dikenal dengan Kelompok Houthi; sebuah kelompok agama yang berdiri di atas keyakinan Syi’ah Zaidiyah. Belum sempurna upaya mengakhiri kekuatan pemberontak, kerusuhan kembali muncul dengan adanya kekuatan baru di wilayah Selatan dan menyatakan diri sebagai bagian dari organisasi Al Qaeda. Organisasi ini kemudian menjadikan basis perlawanannya di wilayah Selatan. Keberadaannya di Yaman tentu banyak mencuri perhatian Amerika dan negara sekutunya, hal ini yang membuat Obama berinisiatif untuk menambah list target kampanye anti terorismenya ke Republik Arab Yaman. Dengan demikian pemerintah Sana’a kini dikepung dengan dua permasalahan; kasus pemberontakan kelompok Houthi di Utara, dan bangkitnya organisasi Al Qaeda di Selatan.

Republik Arab Yaman dikenal sebagai negara yang membebaskan rakyatnya memiliki senjata. Dengan jumlah penduduk 22 juta jiwa, negeri ini dikenal juga sebagai negeri sipil bersenjata. Hal ini yang membuat pihak asing harus berfikir panjang untuk memasuki Yaman. Ini pula yang menjadikan negara itu disegani, dan dengan alasan ini pula perang saudara mudah terjadi. Yaman sendiri baru bersatu pada tahun 1990 setelah sebelumnya terpecah dalam dua negara; Yaman Utara dan Yaman Selatan.

Beberapa pengamat menilai, bersatunya Yaman tak lepas dari perkembangan politik di dunia internasional. Di akhir tahun 1989 tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur dan Barat diruntuhkan. Di awal tahun 1990 kekuatan Uni Soviet kian melemah dan kemudian dibubarkan pada tahun 1991, terkhusus setelah tentara Soviet dipaksa mengakui kekalahannya di Afghanistan dan berujung dengan pecahnya negara komunis itu menjadi negara-negara kecil. Sebelum Yaman bersatu, Yaman Selatan merupakan negara sosialis yang berkiblat ke Uni Soviet. Wilayah negara itu berbatasan dengan Oman, Saudi dan Yaman Utara yang berpaham Sunni. Maka menggabungkan diri dengan Yaman Utara tentu menjadi pilihan terbaik bagi Yaman Selatan untuk menyelamatkan nasib negerinya.

Tanggal 22 Mei 1990 Yaman resmi bersatu dengan presidennya diangkat dari Yaman Utara dan wakilnya dari Yaman Selatan. Terpilihlah Ali Abdullah Shalih sebagai Presiden Republik Arab Yaman hingga sekarang, dirinya sendiri sudah menjabat sebagai Presiden Yaman Utara sejak tahun 1978. Selang 4 tahun dari pengangkatan, konflik besar kembali terjadi, antara pemerintah Sana’a dengan kelompok Partai Sosialis di selatan Yaman. Ancamannya tidak lain adalah ingin memisahkan diri dan membentuk kembali negara Yaman Selatan. Perang yang dikenal dengan sebutan “perang musim panas 94” ini pun kemudian berakhir setelah pemerintah pusat berhasil menguasai keadaan dan menangkap serta mengasingkan para pemberontak ke luar Yaman.

Di paruh terakhir tahun 2009 kemarin, pemerintahan Ali Abdullah Shalih kembali dipusingkan dengan adanya pemberontakan di wilayah Utara, tepatnya di propinsi Sa’dah yang berbatasan langsung dengan Saudi Arabia. Pemberontakan yang dipimpin oleh kelompok Al Houthi ini bukan untuk pertama kalinya terjadi. Kelompok ini sudah melakukan perlawanannya sejak tahun 2004. Dampak dari konflik di utara tersebut—sebagaimana yang tercatat di PBB—adalah meningkatnya pengungsi di Yaman Utara, yang hingga sekarang jumlahnya mencapai 200 ribu orang.

Kelompok Al Houthi yang hidup di bawah manhaj Syi’ah, tentu berseberangan dengan pemerintah Yaman dan negara tetangganya, Saudi Arabia yang keduanya merupakan negara Muslim Sunni. Konflik pun memanas hingga terjadi perang fisik yang menelan banyak korban sipil dan anak-anak. Dalam mengatasi hal ini, pemerintah Sana’a dan Riyadh melakukan kerjasama yang baik. Bahkan Saudi sudi menyuntikkan dana ke Sana’a setiap tahunnya sebesar 2 Milyar USD, dengan target menjamin keamanan wilayah perbatasan Saudi-Yaman. Konflik semakin diperjelas dengan indikasi yang kuat adanya dukungan Iran terhadap pemberontak Houthi. Diantaranya, senjata yang digunakan pemberontak diketahui sebagai senjata buatan Iran yang disuplai kepada mereka. Yaman sendiri sempat menembak jatuh pesawat mata-mata tanpa awak milik Iran di Yaman. Berdirinya kekuatan Syiah di tanah Arab, tentu menjadi impian tersendiri bagi Syiah di Iran.

Menariknya, Yaman dan Saudi Arabia adalah dua partner bangsa Arab yang memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat. Selama perang berlangsung, campur tangan Amerika begitu jelas terlihat. Seperti laporan serangan pesawat tempur di Sa’dah, yang diketahui merupakan jet-jet tempur milik AS. Jadilah negeri para habib hadramaut itu sebagai medan pertempuran semi antara Amerika dan Iran. Menguatnya bantuan Amerika ke Yaman, semakin membulatkan tekad kelompok Al Qaeda, yang dalam pernyataannya, akan selalu mengincar Amerika dimana pun berada. Kelompok ini kemudian segera berdatangan dan menampakan diri di Yaman Selatan. Beberapa serangan yang diarahkan ke instansi milik Amerika menjadi sasaran serangan mereka. Selatan pun kembali bergejolak hingga kini.

Hari Natal tahun 2009 kemarin menjadi puncak kesiapan Amerika dan sekutunya memerangi Yaman. Kasus peledakan pesawat Northwest yang terbang dari Amsterdam ke Detroit yang berhasil digagalkan, boleh jadi menjadi lembaran baru terbukanya konflik yang lebih besar di Yaman. Seorang anak muda yang diketahui berasal dari Nigeria bernama Umarulfaruq Abdul Mutholib, disebut sebagai pelaku dari agenda peledakan pesawat tersebut. Dalam kesaksiannya, ia pun diberitakan telah melakukan latihan di gunung-gunung di Yaman. Menariknya lagi, sumber Amerika menyatakan dirinya sebagai anggota dari Al Qaeda. Dengan demikian, Amerika dan sekutunya seakan mendapat legalisasi dan berkewajiban untuk memburu Al Qaeda di sana dan mulai serius memfokuskan diri mengagendakan serangan ke Yaman.

Pemerintahan Yaman pun dijanjikan mendapatkan bantuan dana lebih besar untuk mengatasi Al Qaeda di sana, bila di tahun 2009 dana yang dipinjamkan sebesar 70 juta USD, namun tahun ini bantuan yang diberikan meningkat hingga angka 150 juta USD. Amerika pun kali ini cukup berbaik hati, dengan menjadikan suntikan dana itu sebagai hibah. Namun untuk saat ini, Presiden Amerika, Barack Obama dalam pernyataannya mengatakan, dirinya tak akan mengirim pasukannya ke Yaman, namun negerinya siap menopang dari segi financial. Hal yang sama juga ia berlakukan dengan negara Somalia yang konflik internalnya tak kunjung usai, dengan adanya pemberontakan dari Syabab Mujahidin yang juga menyatakan diri sebagai bagian dari organisasi Al Qaeda.

Bukan rahasia lagi bila Amerika selalu memiliki niatan terselubung dalam setiap aksinya. Politik yang mereka miliki dengan istilah stick or carrot tentu sangat mudah dipahami. Bukan mustahil dengan dalih pemberantasan teroris, mereka menginjakkan kaki di tanah arab dan mengulang seperti apa yang pernah mereka lakukan di Afghanistan dan Irak. Hal ini yang dengan keras diperingatkan oleh Prof. Dr. Syeikh Abdulmajid Az-zindani, Rektor Universitas Al Iman di Yaman. Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera beliu mengatakan bahwa keberadaan Amerika di Yaman tidak lain bertujuan untuk menjajah. Ulama yang diusir dari Mesir dalam pengembaraan ilmunya di sana, karena terlibat aktif dalam organisasi Ikhwanul Muslimin ini, memprediksikan adanya upaya dari Amerika dan Inggris bekerjasama dengan NATO dalam KTT London yang diadakan pada 28 Januari 2009 nanti untuk mengirimkan pasukannya ke Yaman.

Saat ini pemerintah terus melakukan lobi untuk berdialog dengan kedua kelompok, baik Al Houthi dan Al Qaeda. Tentu dialog menjadi solusi yang terbaik bagi kemaslahatan bersama dan kesatuan Republik Arab Yaman. Hal ini yang tengah diupayakan oleh Ali Abdullah Shaleh selaku presiden, dengan catatan, kedua kelompok menghentikan serangan dan menyerahkan senjata. Bila upaya ini gagal, kemungkinan masuknya tentara asing ke Yaman semakin besar. Mengingat Yaman merupakan negara miskin dan kaya korupsi dan tidak memiliki kekuatan maksimal untuk menghadapi para pemberontak. Terlebih kepemimpinan Abdullah Shaleh tidak cukup mensejahterakan rakyatnya sehingga menjadi alasan dari para pemberontak, termasuk mereka yang berada di kawasan utara dan kelompok sentimen separatis di Selatan Yaman.

Pemerintah Yaman sendiri mewanti-wanti Amerika dan sekutunya untuk saat ini agar tidak mengirim pasukannya ke Yaman. Hal ini dikhawatirkan, karena kebencian rakyat Yaman kepada Amerika yang memuncak dan bila pemerintah membolehkan Amerika dan sekutunya memasuki Yaman, bukan mustahil bila rakyat Yaman kemudian berbalik memihak Al Qaeda dan kekuasaan pemerintah saat ini pun menjadi terancam. Memperkuat pasukan dan mensejahterakan rakyatnya menjadi hal paling urgen yang harus dilakukan pemerintah Yaman saat ini. Jika tidak, Yaman hanya akan jadi bulan-bulanan Al Houthi dan Al Qaeda. Kelemahannya akan memaksa Amerika dan sekutunya datang ke Yaman dan terwujudlah apa yang disebut oleh para analis sebagai Afghanistan ke dua. Wallahu al musta’an.

Penulis: Muhammad Syarief, Mahasiswa Pascasarjana AOU Cairo, Wakil DIrektur SINAI (Studi Informasi Alam Islami) Mesir e-mail: rieff02@yahoo.com [EM]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.