Organisasi Bantuan Muslim Mulai Bergerak Bantu Haiti

Organisasi-organisasi bantuan Islam menggalang bantuan untuk korban gempa di Haiti. Sedikitnya tiga juta penduduk Haiti terkena dampak gempa berkekuatan 7 skala Richter yang mengguncang negeri itu hari Selasa kemarin. Sementara jumlah korban tewas dipekirakan mencapai lebih dari 100.000 orang.

Organisasi Muslim Aid di situsnya menyatakan akan memberikan bantuan darurat sebesar 250.000 poundsterling untuk menolong korban gempa di Haiti. “Gempa itu sangat merusak dan tak tertahankan bagi negara yang sudah begitu banyak mengalami penderitaan,” kata CEO Muslim Aid, Hamid Azad.

“Kami menyampaikan rasa simpati yang mendalam pada rakyat Haiti dan mendesak para donor kami untuk memberikan donasinya guna membantu para korban,” sambung Azad.

Islamic Relief di AS juga menggalang bantuan sebesar 1 juta dollar untuk meringankan penderitaan para korban. Organisasi ini menggandeng sejumlah rekanan untuk mengirim bantuan itu ke Haiti. “Para korban gempa sangat membutuhkan makanan, air bersih, tempat berteduh dan obat-obatan,” demikian pernyataan Islamic Relief USA.

Bantuan untuk para korban gempa di Haiti terus mengalir dari berbagai negara dan institusi termasuk dari Komunitas Bulan Sabit Merah dan Federasi Palang Merah Internasional. Program Pangan Dunia PBB menyatakan akan segera mengirimkan 15.000 ton makanan ke Haiti dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menerbangkan tim spesialisnya untuk menangani korban yang selamat dan tewas.

Memasuki hari keempat penanganan gempa di Haiti, warga dan tim penyelamat mulai menguburkan ribuan mayat korban. Namun distribusi bantuan bagi korban yang selamat, terutama di ibukota Port-au-Prince terhambat karena jalan-jalan terhalang oleh reruntuhan bangunan dan mobil-mobil yang malang melintang. Putusnya jalur komunikasi, rusaknya kantor-kantor bantuan dan ketiadaan staff karena mereka juga menjadi korban gempa, mempersulit distribusi bantuan.

Regu penyelamat dari berbagai negara, bersama warga lokal yang selamat, melakukan evakuasi para korban yang terjebak di bawah reruntuhan gedung hanya dengan peralatan seadanya. Korban yang berhasil diselamatkanpun sulit mendapatkan bantuan dengan cepat karena banyak rumah-rumah sakit yang tidak layak lagi digunakan dan minimnya obat-obatan. (ln/iol/aljz/EM)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.