Tahun Depan, Kriteria 1 Syawal Harus Disamakan

Menteri Agama Maftuh Basyuni berharap tahun depan kriteria 1 Syawal sudah disamakan, sehingga tidak ada lagi perbedaan Hari Raya Idul fitri

Maftuh meminta Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah beserta seluruh ahli hisab dan rukyat berembug membahas kriteria penentuan 1 Syawal. “Sehingga dipastikan tahun depan tidak ada perbedaan lagi,” kata Maftuh dalam Sidang Isbat di Departemen Agama, kemarin malam.

Menurut rencana, setelah 1 Syawal 1428 H, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah akan menentukan kriteria. Pertemuan itu akan berlangsung di kantor PP Muhammadiyah dan Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Sementara itu, Pusat Studi Ilmu Hisab menyerukan kepada semua ahli hisab dan ahli rukyat di seluruh Indonesia bersatu. “Mayoritas umat Islam adalah umat awam mudah bingung bila harus memilih satu diantara dua hari raya,” kata Ketua Pusat Studi Ilmu Hisab Surya Ismail.

Pusat Studi Ilmu Hisab mengajak semua ahli hisab dan ahli rukyat membuat kesepakatan mengenai tinggi hilal minimum yang dapat dilihat. Setelah itu baru dirumuskan penetapan hari raya didasarkan pada tinggi hilal yang telah disepakati. “Semua ahli hisab dan rukyat juga harus meneliti kembali kebenaran ilmu hisab yang dianutnya,” kata dia.

Kesaksian rukyat pada kondisi tinggi hilal kurang dari tinggi hilal minimum yang mungkin bisa dilihat itu harus diuji kepatutannya berdasarkan ilmu dan pengalaman. Pusat Studi Ilmu Hisab juga merekomendasikan agar Jayapura ditempatkan sebagai markas hisab.

Selain itu, pemimpin umat juga harus melakukan uji kepatutan bila menerima laporan kesaksian rukyat dari orang yang mengaku melihat hilal. “Menteri Agama juga harus mengadakan penelitiah mengenai tinggi hilal minimum,” kata dia. [ti/] hidayatullah.com

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.