Benarkah Haram Memotong Kuku dan Rambut Pada Bulan Dzulhijjah Bagi Yang Hendak Berqurban ?

Benarkah Haram Memotong Kuku dan Rambut Pada Bulan Dzulhijjah Bagi Yang Hendak Berqurban ?

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami / ASH

[Guru Ngaji Kampung Yang Tidak Mempunyai Gelar Apa-Apa]

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan permasalahan hukum memotong kuku dan rambut setelah masuk bulan Dzulhijjah bagi yang berniat untuk berqurban, menurut para ulama empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, agar wawasan kita menjadi luas dalam masalah ini sehingga lapang dada menyikapi perbedaan dengan saling menghargai dan menghormati yang berbeda, tanpa memaksakan pendapat.

Dalil yang dijadikan landasan dalam masalah ini adalah hadits Ummu Salamah dan Aisyah Radhiyallahu ‘Anhuma.

Pertama:

Hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha  riwayat Imam Ahmad dan Muslim berupa larangan.

Berikut redaksinya;

حديث أم سلمة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

(( إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي , فليمسك عن شعره وأظفاره ))

[رواه أحمد ومسلم ] ,

وفي لفظ : (( فلا يمس من شعره ولا بشره شيئاً حتى يضحي )).

Hadits Ummu Salamah –Radhialahu ‘Anha, bahwa Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:

“Apabila telah masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.”

(HR. Ahmad dan Muslim)

Dalam lafadh (redaksi) lain:

“Maka janganlah ia menyentuh (mengambil) sedikitpun dari rambut dan kulitnya sehingga ia menyembelih hewan qurbannya.”

Larangan ini hanya dikhususkan bagi orang yang berqurban saja, tidak termasuk istri-istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berqurban.

روى مسلم من طريق سعيد بن المسيب عن أم سلمة تقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من كان له ذِبحيذبحه فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي )

فقولهمن كان له ذِبح يذبحهأي أنه عينه ومن المعلوم أن الأضحية إذا تعينت لا يستطيع العبد أن يرجع عن نيةالاضحية.

Imam Muslim Rahimahullah melalui jalan Said bin Al-Musayyab, dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Barangsiapa telah memiliki hewan untuk disembelih (sebagai qurbannya) maka jika telah memasuki bulan Dzulhijjah janganlah ia menyentuh (mengambil) sedikitpun dari rambut dan kukunya sehingga ia menyembelih hewan qurbannya.”

Kedua:

Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha riwayat yang disepakati Bukhari dan Muslim tidak ada larangan.

Berikut redaksinya;

وعن عائشةرضي الله عنهاقالت : “فتلت قلائد بدن النبيصلى الله عليه وسلمبيدي ، ثم قلدها ، وأشعرها، وأهداها ، فما حرم عليه شيء كان أحل له“.

(متفق عليه)

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu berkata;

“Aku memintal kalung-kalung unta Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dengan tanganku sendiri, kemudian Beliau mengalungkannya, memberinya tanda dan mengirimkannya (menjadikannya sebagai hadyu untuk disembelih). Maka, tidak ada sesuatupun  yang tadinya halal menjadi haram bagi beliau.”.

Kesimpulannya menurut para ulama ada tiga pendapat;

1- Haram.

Ini pendapat Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah.

2- Makruh, tidak haram.

Ini pendapat Imam Syafi’i Rahimahullah dan Imam Malik Rahimahullah dalam salah satu pendapatnya.

3- Mubah.

Ini pendapat Imam Abu Hanifah Rahimahullah dan Imam Malik Rahimahullah dalam salah satu pendapatnya.

Pendapat yang menyatakan makruh, bukan haram, adalah pendapat yang paling adil, pertengahan dan paling mudah. Juga di dalamnya terkumpul semua dalil dalam masalah ini serta memperhatikan keadaan manusia, situasi dan kebutuhan mereka yang berbeda-beda.

Kapan Larangan Memotong Kuku dan Rambut Pada Bulan Dzulhijjah Bagi Yang Hendak Berqurban ?

Menurut Qatadah, Said bin Musayyab dan sebagian ulama madzhab Syafi’i larangan memotong kuku dan rambut berlaku setelah membeli hewan qurban dan menentukannya pada 10 hari pertama Dzulhijjah.

Dalilnya adalah hadits riwayat Imam Muslim Rahimahullah melalui jalan Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:

( من كان له ذبح يذبحه فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي )

“Barangsiapa telah memiliki hewan untuk disembelih (sebagai qurbannya) maka jika telah memasuki bulan Dzulhijjah janganlah ia menyentuh (mengambil) sedikitpun dari rambut dan kukunya sehingga ia menyembelih hewan qurbannya.”

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat untuk kita semua terutama dalam membiasakan diri memahami perbedaan pendapat para ulama sehingga wawasan menjadi luas dan menyikapi perbedaan dengan penuh hormat dan menghargai tanpa merendahkan yang berbeda dalam permasalahan furu’iyyah atau cabang-cabang agama seperti ini, karena semuanya mempunyai dalil, hujjah dan argumentasi menurut sudut pandang masing-masing, aamiin ya Robb.

Tulisan lama diperbaiki kembali di Malang pada Selasa 29 Dzulqa’dah 1441 / 21 Juli 2020

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.