[2] Pelajaran dari Gus Wahid AREMA, Sahabat Sehidup Sesurga Insya Allah (bagian ke 2)

[2] Pelajaran dari Gus Wahid AREMA, Sahabat Sehidup Sesurga Insya Allah (bagian ke 2)

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami / ASH

[Guru Ngaji Kampung Yang Tidak Mempunyai Gelar Apa-Apa]

Gus Wahid rahimahullah adalah Kiyai yang unik dan sulit mencari penggantinya. Beliau berdakwah lintas ormas, partai dan semuanya tanpa batas.

Beliau dekat dengan semuanya, mulai orang paling alim sampai orang paling awam, orang paling kaya sampai orang paling miskin, orang paling baik sampai orang paling nakal, pejabat tinggi sampai rakyat jelata, besar kecil, tua muda, laki perempuan, NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, Habaib, Salafy, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan lainnya.

Beliau bergaul dan berdakwah kepada semuanya itu tanpa membedakan dan beliau tidak takut celaan orang yang mencela karena yang beliau cari hanya ridha Allah semata.

Walau beliau bergaul dan berdakwah kepada semuanya akan tetapi beliau tetap istiqamah sebagai NU sejati lagi tulen dan ini tampak sekali dalam amaliah beliau, juga kitab serta materi yang beliau ajarkan.

Beliau bergaul dan berdakwah kepada semuanya itu sepenuh hati, bukan hanya basa basi di lisan saja, sehingga siapapun bisa merasakan hal itu, karena sesuatu yang keluar dari hati pasti akan masuk ke dalam hati.

Beliau dihujat, dicaci, difitnah, dibunuh karakternya oleh orang-orang yang tidak menyukai beliau, namun beliau tidak membalas. Beliau tetap tenang dan santun. Beliau menjawab semua itu dengan semakin bersemangat dalam mempersatukan umat demi menggapai ridha Allah dan surgaNya, karena beliau yakin bahwa keridhaan semua manusia adalah puncak yang mustahil untuk dicapai. Cukup Allah Maha Mengetahui semuanya.

Diantara kelebihan beliau juga adalah Allah berikan kepada beliau keberanian menyampaikan kebenaran tanpa ada rasa takut dan minder di hadapan siapapun, dan Allah karuniakan kepada beliau bahasa yang super indah dengan gaya khasnya bahasa wali’an (bahasa gaya AREMA yang dibolak balik) dan joke segarnya ketika menyampaikan pesan sehingga pesan tersampaikan masuk ke dalam tanpa membuat suasana tegang ataupun keruh, justru sebaliknya suasana bertambah nyaman, seperti pepatah bahasa Jawa, “Bening Banyune Kecandhak Iwak’e” yang artinya, airnya tetap jernih dan ikannya terambil, tujuan tercapai tanpa menimbulkan masalah baru.

Masya Allah tabarakallah, seakan Allah menciptakan Gus Wahid rahimahullah dengan membawa misi besar, mempersatukan dan merekatkan diantara umat. Misi besar penuh resiko, dan insya Allah beliau telah sukses dalam mengemban misi besar tersebut, aamiin ya Robb.

Semoga engkau bahagia di sana sahabatku…

Insya Allah bersambung bagian ke 3..

Malang, Selasa 15 Dzulqa’dah 1441 / 7 Juli 2020.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.