[1] Pelajaran dari Gus Wahid AREMA, Sahabat Sehidup Sesurga Insya Allah (bagian ke 1)

[1] Pelajaran dari Gus Wahid AREMA, Sahabat Sehidup Sesurga Insya Allah (bagian ke 1)

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami / ASH

[Guru Ngaji Kampung Yang Tidak Mempunyai Gelar Apa-Apa]

Gus Wahid yang lebih dikenal dengan Kiyai Arema, Nama lengkap beliau adalah KH. Abdul Wahid Ghozali S.Ag., M.PdI. Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kabupaten Malang, sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren As Salam desa Bunut Singosari Malang.

Perkenalan dan persahabatan kami bermula ketika kami belajar di Madrasah Tsanawiyah Negeri MTsN Malang 1 Jalan Bandung Malang. Saat itu kami satu kelas sehingga sangat akrab. Persahabatan ini berlanjut sampai beliau wafat pada Sabtu 12 Dzulqa’dah 1441 / 4 Juli 2020.

Mulai saling kenal dan bersahabat usia kami 12 tahun dan saat ini usia kami 50 tahun menurut penanggalan hijriyah, sehingga persahabatan kami hampir 40 tahun. Bukan waktu yang singkat dalam sebuah persahabatan.

Kami saling kenal secara mendalam, lahir batin, mulai awal sampai akhir. Mulai dari madrasah tsanawiyah yang lebih banyak bercanda dan guyonnya, sampai saling cinta karena Allah di medan dakwah mengabdi kepada Allah menjadi pelayan umat. Anda tentu bisa menangkap seperti apa kedalaman hubungan diantara kami.

Beliau merintis dakwah dari nol, dari bawah.

Sebelum mempunyai pondok yang beliau tempati saat ini, beliau ngontrak rumah yang amat sangat sederhana di dekat pondok tersebut. Kendaraan beliau saat itu sepeda motor butut yang jadul banget. Saat itu beliau jualan ayam di pasar untuk menghidupi keluarga beliau, namun beliau tetap semangat berdakwah dengan penuh ketawadhu’an dan kesederhanaan.

Insya Allah saya akan menulis secara bersambung beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari Gus Wahid rahimahullah yang memungkinkan untuk saya tuliskan sebagai bentuk cinta kepada beliau, juga supaya bisa dijadikan suri tauladan untuk kita semuanya, karena beliau adalah sosok yang unik dan sulit untuk mencari penggantinya.

Insya Allah bersambung bagian ke 2.

Malang, Senin 14 Dzulqa’dah 1441 / 6 Juli 2020.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.