Hasil Ngaji dan Sekolah Jauh ?!

Hasil Ngaji dan Sekolah Jauh ?!

Sungguh prihatin dan kasihan menyaksikan fenomena anak-anak ngaji dan bahkan sekolah jauh ke luar negeri namun hasilnya adab dan akhlak semakin buruk, wawasan tambah sempit, dada tidak lapang menyikapi perbedaan dan hobby memvonis dan membully yang berbeda sebagai sesat padahal sesama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Apalah artinya ngaji, sekolah dan menuntut ilmu jauh-jauh jika hasilnya seperti itu ?!

Kita harus rajin dan selalu melakukan muhasabah atau introspeksi dan mawas diri tentang ilmu yang bermanfaat yang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam selalu berdoa kepada Allah memohon ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang menjadikan seseorang semakin dekat dengan Allah, semakin mulia adab dan akhlaknya, semakin bersih hatinya, semakin terjaga lisan dan tulisannya serta semakin baik dan terpuji hubungannya dengan manusia apalagi sesama muslim mukmin.

Ilmu itu luas bagai lautan tak bertepi. Karena itulah Allah perintahkan kita selalu berdoa kepada Allah memohon tambahan ilmu sebagaimana FirmanNya dalam Kitab Suci Al-Qur’an surat Thaha ayat 114;

وَقُلرَّبِّزِدْنِيعِلْمًا

“dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu”.

Berkata Fadhilatusy Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya “Hilyah Thalibil Ilmi”;

“Waspadalah menjadi “Abu Syibrin” atau “Bapak Sejengkal”, karena sungguh telah dikatakan bahwa;

ilmu itu tiga jengkal.

Barangsiapa masuk jengkal pertama ia akan sombong.

Barangsiapa masuk jengkal kedua ia akan tawadhu (rendah hati).

Barangsiapa masuk jengkal ketiga ia menyadari bahwa ia tidak mempunyai ilmu”.

Jadi, orang berilmu yang ilmunya luas itu jauh dari kesombongan, semakin tawadhu dan menyadari bahwa ilmu itu luas ibarat lautan sehingga mengakui bahwa ilmunya masih sangat kurang dan terus belajar, belajar dan belajar. Selalu menghargai dan menghormati yang berbeda, tanpa merasa paling pintar, paling tahu, dan klaim-klaim semisalnya yang bermakna sombong dan ujub tanpa disadari.

Bagaimanakah dengan kita ?! Semoga Allah selamatkan kita, aamiin ya Robb.

Malang, Rabu 22 Syawal 1440 / 26 Juni 2019

Akhukum Fillah

Al-Faqir @AbdullahHadrami

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.