Ringkasan Hukum Jika Lebaran (Id) Bertepatan dengan Hari Jum’at

Ringkasan Hukum Jika Lebaran (Id) Bertepatan dengan Hari Jum’at

Para ulama berbeda pendapat ketika terkumpul antara id (lebaran) dan hari Jum’at dalam satu hari atas 4 pendapat, dan kesimpulan dari dalil-dalil masing-masing pihak dalam masalah ini adalah;

1- Wajib shalat Jum’at atas siapapun, walau sudah ikut shalat id. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi dan Maliki.

Diantara dalil yang mereka jadikan argumentasi adalah dalil-dalil umum tentang kewajiban shalat Jum’at seperti firman Allah dalam surat Al-Jum’ah ayat 9 yang artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”, dan dalil-dalil umum lainnya.

2- Boleh tidak ikut Jum’atan bagi yang sudah ikut shalat id, dan mengganti dengan shalat Dhuhur, akan tetapi imam masjid yang biasa mengadakan shalat Jum’at tetap mengadakan shalat Jum’at seperti biasa untuk memfasilitasi yang hendak shalat Jum’at. Bagi yang tidak ikut shalat id, tetap wajib shalat Jum’at. Ini pendapat madzhab Hanbali.

Diantara dalil yang mereka jadikan argumentasi adalah hadits riwayat Abu Dawud dalam “Sunan”nya dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bahwasanya Beliau bersabda: “ Sesungguhnya terkumpul pada hari ini dua id (lebaran dan Jum’at), barangsiapa yang menghendaki maka cukup baginya (shalat id) dari shalat Jum’at, akan tetapi kami tetap mengadakan shalat Jum’at”.

3- Bagi yang tinggal di tempat yang jauh dari masjid untuk shalat Jum’at boleh tidak ikut shalat Jum’at jika sudah ikut shalat id dan cukup shalat Dhuhur. Adapun yang tinggal di tempat yang dekat dari masjid untuk shalat Jum’at tetap wajib ikut shalat Jum’at walau sudah ikut shalat id. Ini pendapat madzhab Syafi’i.

Diantara dalil yang mereka jadikan argumentasi adalah hadits dalam “Shahih Al-Bukhari”, ketika terjadi id pada hari Jum’at pada masa sahabat Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, Beliau berkata : “Wahai manusia, sesungguhnya pada hari ini terkumpul untuk kalian dua id (lebaran dan Jum’at). Barangsiapa yang suka untuk menunggu shalat Jum’at diantara penduduk Al-‘Awaliy maka hendaklah menunggu, namun siapa yang ingin pulang sungguh aku telah mengijinkan untuknya”.

Al-‘Awaliy adalah desa dekat Madinah, yang lumayan jauh jika ke Masjid Nabawi untuk shalat Jum’at.

4- Gugur shalat Jum’at dan Dhuhur bagi yang sudah ikut shalat id. Ini pendapat sahabat Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma dan diikuti oleh ‘Atha’.

Diantara dalil yang mereka jadikan argumentasi adalah riwayat dari Atha’, ia berkata: “Terkumpul hari Jum’at dan id pada masa Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma, kemudian Beliau (Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma) berkata : “Dua id (lebaran dan Jum’at) terkumpul, lalu Beliau menggabungnya dalam shalat dua raka’at pada waktu pagi (shalat id), tidak shalat lagi setelah itu sampai ‘Ashar”. (Riwayat Abu Dawud dengan sanad shahih menurut syarat imam Muslim).

Dari Atha’ berkata, Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma shalat id pada hari Jum’at di waktu pagi, kemudian kami pergi untuk shalat Jum’at, ternyata Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma tidak keluar kepada kami (untuk shalat Jum’at), maka kami shalat sendiri-sendiri. Pada saat itu sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma sedang berada di Tha’if. Tatkala Beliau (sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma) datang (ke Mekkah) kami ceritakan hal itu kepada Beliau dan Beliau mengatakan: “Ia (Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhuma) telah sesuai sunnah”. (Riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan atau shahih menurut syarat imam Muslim).

Kesimpulan:

Untuk Indonesia lebih tepat pendapat ke 3 karena mayoritas bermadzhab Syafi’i, yaitu tetap wajib shalat Jum’at walau sudah ikut shalat id, karena masjid yang mengadakan shalat Jum’at sangat banyak dan jaraknya dekat sehingga tidak ada alasan untuk tidak ikut shalat Jum’at disebabkan jarak tempat tinggal jauh dari masjid.

Semoga bermanfaat.

Ditulis di Masjid Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu, Karang Widoro, Dau, Kabupaten Malang pada hari terakhir i’tikaf, Kamis 29 Ramadhan 1439 / 14 Juni 2018

Hamba Allah yang tertawan dosanya yang sangat mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

@AbdullahHadrami

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *