“Kembali Ke Masjid, Saudariku”

“Kembali Ke Masjid, Saudariku” 

Judul diatas adalah puisi yang ditulis dan dibacakan oleh Hajjah Neno Warisman dalam acara peresmian Masjid Al-Irsyad Al-Islamiyyah Rutan Perempuan Kelas IIA Jakarta Timur, Sabtu 26 Sya’ban 1439 / 12 Mei 2018.

Masjid Al-Irsyad Al-Islamiyyah Rutan Perempuan Kelas IIA Jakarta Timur tadi diresmikan langsung oleh Gubernur DKI Bapak Anies Baswedan.

Tadi juga hadir dalam peresmian;

Direktur Pelayanan Tahanan dan Pengelolaan Benda Sitaan Negara dan Barang Rampasan Negara.

Kepala Kantor Wilayah Kemenhumham DKI Jakarta.

Ketua Dewan Syuro Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ustadz KH Abdullah Jaidi

Ketua Pengurus Besar Wanita Al-Irsyad Al-Islamiyyah Dra Fahimah Askar.

Para alim ulama, para tokoh masyarakat, irsyadiyyin wal irsyadiyyaat, para pejabat dan pegawai serta penghuni rutan.

Masjid adalah rumah kita di dunia ini agar kita bisa pulang kembali ke rumah kita di surga nanti.

Berbahagialah orang dimudahkan Allah membangun masjid karena Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits mutawatir:

“Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid, pasti Allah bangunkan untuknya sebuah istana di surga”.

Setelah dibangun, langkah selanjutnya adalah dimakmurkan dengan berbagai macam kegiatan positif agar manfaatnya semakin maksimal. Allah memuji orang-orang yang memakmurkan masjid dalam berfirmanNya:

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

[Surat 9 At-Taubah, ayat 18]

Masjid Al-Irsyad Al-Islamiyyah Rutan Perempuan Kelas IIA Jakarta Timur yang tadi diresmikan adalah sebuah masjid berlantai dua yang menyejukkan karena dibangun dengan keikhlasan dan full AC dengan harapan dari masjid inilah para penghuni rutan yang pernah berbuat kesalahan dan dosa bertaubat kepada Allah dan menjadi manusia-manusia yang baik lagi bermanfaat, bahkan menjadi para penghafal Al-Qur’an (hafidzah) insya Allah.

Alhamdulillah kami diberi karunia dan kesempatan oleh Allah untuk ikut serta membina para narapidana di LP laki dan perempuan di kota Malang semenjak sekitar 10 tahun yang lalu. 

Entah mengapa, setiap kami menyampaikan kajian di LP selalu kami rasakan suasana yang lain dibanding kajian-kajian kami di luar LP. Mungkin karena mereka telah melepaskan semua atribut kebesaran mereka ketika di luar sehingga tidak ada lagi atribut yang menempel pada diri mereka selain narapidana. Iya, semuanya sama, narapidana. Mereka telah menjadi ‘diri mereka sendiri’, menjadi hamba Allah. Atau mungkin juga karena mereka adalah orang-orang yang telah menyadari kesalahan-kesalahan mereka dan bertekad bulat untuk bertaubat kepada Allah sehingga hati mereka menjadi hati yang bersih, yang penuh penyesalan atas semua kesalahan.

Bukankah Allah mencintai hamba-hambaNya yang mengakui kesalahan dan dosanya serta menyesalinya? Bukankah orang yang berbuat dosa dan kesalahan yang menyesali perbuatan buruknya lebih baik dari orang yang selalu berbuat kebaikan akan tetapi selalu ujub dan membanggakan dirinya? Bukankah manusia adalah tempat lupa dan salah? Bukankah sebaik-baik orang yang telah berbuat kesalahan adalah orang yang mau bertaubat?

Banyak kisah menarik selama kami membina para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Lowokwaru Malang diantaranya adalah tentang para narapidana yang semula tidak kenal Allah ketika sebelum masuk LP dan menjadi kenal Allah bahkan rajin shalat, ibadah, belajar agama dan aktif ikut kajian setelah masuk LP, alhamdulillah.

Contohnya, adalah seorang narapidana kasus narkoba yang tidak kami sebutkan namanya demi menjaga kerahasiaan. Dahulu ia dikenal sebagai seorang yang tidak pernah mengenal Allah, tidak pernah shalat dan boleh dikatakan sebagai seorang yang atheis. Buku-buku yang dibacanya saat itu adalah buku-buku karya tokoh-tokoh komunis seperti Karl Max dan semisalnya. Padahal napi tersebut beragama Islam dan dari keluarga Islam.

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah ternyata setelah menjalani hukuman di LP ia menjadi sadar dan mau hadir pengajian agama serta antusias membaca buku-buku agama sehingga akhirnya ia mengenal Allah kembali setelah sekian lama ia lupakan, ia bertaubat kepada Allah dari masa lalunya dan sekarang ini aktif ikut kajian, shalat berjama’ah, berdiskusi masalah agama dan tampak Nur (cahaya) dari wajahnya yang sebelumnya cahaya itu telah padam. Semoga saja ia istiqomah sampai keluar LP nanti dan sampai berjumpa dengan Rabbnya. Tidak sedikit pula diantara mereka yang tubuhnya telah dipenuhi tatto dari leher sampai kaki, tapi akhirnya bertaubat dan menjadi orang baik.

Agama Islam tidak memandang masa lalu kita. Siapapun dan seperti apapun kita dimasa lalu tidak masalah, yang terpenting adalah bertaubat dan menjadi orang baik dan mati dalam keadaan baik, husnul khatimah.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:

“Amalan itu yang dinilai adalah akhirnya”.

[HR. Imam Ahmad dan Al-Bukhari]

Semoga masjid tersebut menjadi amal jariyah bagi siapa saja yang terlibat dalam pembangunan dan pemakmurannya, menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat sehingga layak mendapat rahmat Allah dan surgaNya, semoga Allah kabulkan sehingga menjadi banyak dan besar manfaatnya, aamiin.

Semoga bermanfaat.

Ditulis di Bandara Halim Jakarta sambil ngopi menunggu pesawat ke Malang, Sabtu 26 Sya’ban 1439 / 12 Mei 2018

Akhukum Fillah

Abdullah Sholeh Hadrami

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *