Cuci Otak Menuju Beragama Ekstrem dan Solusinya

 

Cuci Otak Menuju Beragama Ekstrem dan Solusinya

Kita prihatin dengan fenomena saat ini; caci maki, hujat, pembunuhan karakter bahkan vonis sesat dan ahli neraka dalam masalah khilafiyah furu’iyyah. Ini keburukan dan musibah bagi umat ! 

Semua ini setiap saat kita saksikan di dunia maya dan alam nyata. Sungguh memprihatinkan !

Mengapa seperti ini ?!

Apa penyebabnya ?!

Empat Langkah Menuju Beragama Yang Ekstrem

Tahap pertama adalah pemahaman dan pemikiran yang sempit serta tidak lapang dada menyikapi perbedaan pendapat.

Tahap kedua, karena pemahaman dan wawasan yang sempit itu timbullah kekerasan dalam cara berfikir dengan selalu memvonis dan meyakini yang berbeda sebagai salah dan sesat bahkan ahli neraka.

Tahap ketiga, karena telah memvonis sesat yang berbeda maka terjadi kekerasan dalam kata-kata seperti bully dan pembunuhan karakter.

Tahap keempat, setelah kekerasan dalam kata-kata, tahap berikutnya adalah kekerasan fisik.

Selamatkan diri Anda dan keluarga Anda dari faham-faham ekstrem dan intoleran seperti di atas.

Solusi dari masalah ini adalah sebagai berikut;

  1. Hendaklah para guru mengakui adanya perbedaan pendapat dan menjelaskan kepada muridnya jika dalam satu masalah terdapat perbedaan pendapat.
  2. Hendaklah para guru menghargai yang berbeda tanpa caci maki apalagi vonis sesat.
  3. Hendaklah para guru meyakinkan murid-muridnya bahwa perbedaan pendapat ini bukan masalah prinsip, tapi furu’iyyah.
  4. Hendaklah para guru membuka wawasan murid dan umat agar luas dan tidak sempit sehingga lapang dada menyikapi perbedaan.
  5. Kita kedepankan husnudzdan atau prasangka baik kepada ulama yang berbeda, mungkin situasi dan kondisi yang menjadikannya bersikap seperti itu.

Lima poin diatas wajib dimasukkan dalam kurikulum di sekolah, pondok pesantren dan lembaga pendidikan lainnya serta di jadikan acuan di majelis-majelis taklim baik di masjid, di rumah, atau di manapun.

Mari kita selamatkan generasi muda demi menyongsong masa depan yang lebih baik, berkarakter, akhlakul karimah, budi pekerti mulia, menuju Indonesia yang berkeadilan dan lebih beradab.

Semoga bermanfaat.

Malang, Sabtu 10 Ramadhan 1439 / 26 Mei 2018

Guru yang prihatin menyaksikan keadaan umat

Abdullah Sholeh Hadrami

@AbdullahHadrami

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *