Salafush Sholeh Menyikapi Malam Nishfu Sya’ban

Salafush Sholeh itu adalah para sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Malam Nishfu Sya’ban adalah pertengahan bulan Sya’ban, yaitu tanggal 14 malam 15 Sya’ban.

1- Para tabi’in dari kalangan penduduk negeri Syam mengagungkan Malam Nishfu Sya’ban dan bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam itu, seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul Asy-Syami dan Luqman bin Amir rahimahumullah.

Bahkan mereka menganjurkan menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban secara berjama’ah di masjid-masjid dengan mengenakan pakaian terbaik, memakai parfum, memakai celak, dan shalat pada malam itu.

2- Adapun Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah seorang tabi’in yang juga merupakan imam besar penduduk negeri Syam tidak menyukai berkumpul di masjid-masjid pada Malam Nishfu Sya’ban untuk beribadah, berkisah dan berdoa. Beliau lebih cenderung untuk menghidupkan malam itu dengan beribadah sendiri-sendiri, tidak berjama’ah.

3- Para tabi’in dari kalangan penduduk Hijaz (Mekkah dan Madinah) seperti Atho’, Ibnu Abi Mulaikah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahumullah berpendapat bahwa menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban secara khusus untuk beribadah adalah bid’ah.

Kesimpulannya,
menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan beribadah, shalat dan do’a adalah amalan sebagian Salafush Sholeh, dan sebagian Salafush Sholeh yang lain tidak menyetujuinya.

Jadi, masalah ini sudah ada perbedaan pendapat dari dahulu semenjak zaman Salafush Sholeh. Kalau ada yang mengatakan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban bukan amalan Salafush Sholeh, tentu tidak tepat, karena sebagian Salafush Sholeh menghidupkannya sebagaimana kita lihat.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan;
“Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan (mustajab) pada lima malam;
1- Malam Jum’at.
2- Malam Idul Fitri.
3- Malam Idul Adha.
4- Malam pertama bulan Rajab.
5- Malam Nishfu Sya’ban.

Demikian intisari penjelasan Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif halaman 263-264.

Semoga bermanfaat menambah wawasan dan menjadikan kita semakin lapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat seperti ini.

Malang, Selasa 08 Sya’ban 1439 / 24 April 2018

Akhukum Fillah
Abdullah Sholeh Hadrami

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *