Pelajaran dari Perjalanan ke Jepang 2017; Idul Adha 1438 di Tokyo dan Persaudaraan (bag 4)

Pelajaran dari Perjalanan ke Jepang 2017; Idul Adha 1438 di Tokyo dan Persaudaraan (bag 4)

Kamis sore 31 Agustus 2017 yang merupakan hari Arafah warga Indonesia yang tinggal agak jauh dari Tokyo mulai berdatangan ke Masjid Indonesia Tokyo (MIT) di Balai Indonesia-Tokyo di Meguro untuk persiapan shalat Idul Adha keesokan harinya. Mereka menginap disana agar tidak terlambat shalat Idul Adha mengingat rumah mereka yang jauh.

Pada hari Jum’at pagi jama’ah sudah mulai berdatangan memenuhi Masjid Indonesia Tokyo. Ketika kami datang jama’ah sudah hampir penuh. Kemudian datang Dubes RI di Jepang Bapak Arifin Tasrif beserta staf diantaranya; Atase Imigrasi KBRI Jepang Bapak Arief Munandar dan Kepala Bidang Politik KBRI Jepang Bapak Abbas Ridwan, semoga Allah jaga dan lindungi semuanya, aamiin.

Acara dimulai dengan pembukaan kemudian sambutan Bapak Dubes dilanjutkan dengan shalat dan khotbah Idul Adha dengan tema “Berbahagialah Wahai Haji Mabrur”. Alhamdulilah, puji syukur hanya untuk Allah kemudian terima kasih kepada semua pihak yang telah mempercayakan kepada kami untuk memimpin shalat dan khotbah Idul Adha 1438 di Masjid Indonesia Tokyo Japan ini, jazakumullah khaira.

Setelah selesai semua acara jama’ah saling berjabat tangan cukup akrab dan penuh persaudaraan. Karena jama’ah cukup banyak dan tempat tidak menampung maka shalat dan khotbah Idul Adha dilaksanakan dua gelombang. Alhamdulillah shalat Idul Adha di Masjid Indonesia Tokyo Japan berjalan lancar, khidmat dan barokah insya Allah.

Pada siang harinya kami shalat Jum’at di Tokyo Camii Mosque, masjid besar nan megah yang dibangun oleh Turki sehingga arsitektur bangunannya mirip masjid-masjid di Turki pada umumnya. Jama’ah dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk shalat Jum’at bersama. Selesai shalat Jum’at telah disediakan makan siang gratis di lantai bawah masjid untuk semua jama’ah yang hadir. Suasana yang menyenangkan dan patut dicontoh.

Sungguh indah pemandangan hari Idul Adha ini. Masyarakat Indonesia dari berbagai ormas, partai dan latar belakang yang bermacam-macam berkumpul penuh persaudaraan di Masjid Indonesia Tokyo dan masyarakat dunia dari berbagai bangsa, suku, bahasa, warna kulit, madzhab dan latar belakang yang bermacam-macam berkumpul penuh persaudaraan di Tokyo Camii Mosque. Subhanallah !

Inilah Islam ! Inilah ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah ! Inilah ajaran yang murni turun dari langit ! Semua orang beriman dan orang Islam adalah bersaudara !

Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara”.
[Al-Qur’an, surat 49 Al-Hujurat, ayat 10]

Rasulullah muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Sesama orang Islam adalah bersaudara”.
[HR. Muslim]

Mari kita jaga hak-hak persaudaraan ini tanpa mempermasalahkan perbedaan yang ada. Berbeda dan warna warni itu indah asalkan kita mampu menyikapinya secara benar, bijak dan dewasa.

Sesama orang Islam itu harus rukun dan damai, karena antara perbedaan dan persamaan diantara kelompok Islam itu lebih banyak samanya daripada bedanya.

Berikut ini permasalahan prinsip yang kita semua sama di dalamnya:

1. Tuhannya sama, Allah.
2. Nabinya sama, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam.
3. Kiblatnya sama, Ka’bah.
4. Kitabnya sama, Al-Qur’an.
5. Rukun Islamnya sama lima; Dua kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bagi yang mampu.
6. Rukun imannya sama enam; Iman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir dan takdir.
7. Sahabat Nabinya sama, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu ‘Anhum.
8. Imam madzhabnya sama, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal Rahimahumullah.
9. Kitab haditsnya sama, Bukhari, Muslim, dll.
10. Dan persamaan-persamaan prinsip lainnya yang sangat banyak.

Perbedaan yang ada itu kebanyakan bukan dalam hal yang prinsip, tapi sayang kadang di paksakan untuk menjadi seakan hal itu adalah permasalahan yang prinsip.

Pengalaman masa lalu, lingkungan, buku-buku yang dibaca, dan guru-guru yang mengajari, kesemuanya itu akan berpengaruh dalam pemahaman keagamaan seseorang.

Apabila terjadi perbedaan pendapat, ketimbang harus emosional, alangkah baiknya jika pikiran masing-masing pihak dikomunikasikan dengan baik, lalu didiskusikan layaknya orang dewasa yang memiliki basis moral akhlakul karimah dan intelektual Islami dengan mengedepankan keluhuran.

Semoga Allah kumpulan kita semua di surga, aamiin.

Bersambung….

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *