Naik Yamaha NMAX Jadi Ingat Syaikh Al-Bani rahimahullah

Naik Yamaha NMAX Jadi Ingat Syaikh Al-Bani rahimahullah

Di awal dakwah dahulu saya belum mempunyai kendaraan sehingga kalau hendak kajian menunggu penjemput dahulu.

Dalam setiap kajian saya berusaha on time (tepat waktu). Namun karena menunggu jemputan akhirnya tergantung kepada si penjemput, kalau menjemputnya terlambat kajian-pun ikut terlambat.

Saat itu paling banyak adalah kajian di kampus-kampus terutama di Universitas Brawijaya Malang.

Tidak jarang pulang kajian dibonceng sepeda motor sambil kehujanan, maklum yang membonceng mahasiswa.

Sampai akhirnya ada seseorang yang meminjamkan kepada saya sepeda motor Honda Astrea 800 yang sudah butut, alhamdulillah. Walau butut yang penting tidak menunggu jemputan dan kajian bisa on time.

Tidak lama setelah itu ada seorang yang baik hati dan suka membantu orang lain yang tidak tega melihat saya naik motor butut akhirnya diusahakan agar saya mempunyai sepeda motor sendiri. Orang itu adalah Bang Ali Musallam Mahri rahimahullah. Orang baik dan ringan tangan yang tidak mungkin bisa saya lupakan, semoga Allah menjadikan alam kuburnya taman diantara taman-taman surga dan memasukkannya kedalam surga mendapat ridhaNya, aamiin.

Alhamdulillah, dari hasil usaha Beliau akhirnya ada orang yang memberikan kepada saya sepeda motor Honda Supra, jazahullah khaira.

Beberapa tahun saya memakai sepeda motor Honda Supra tersebut sampai akhirnya Allah mudahkan membeli sepeda motor Honda Vario. Supra dijual, kemudian beli Vario, alhamdulillah.

Sering khotbah Jum’at di Bangil naik motor dan pulang kehujanan, alhamdulillah.

Beberapa tahun memakai sepeda motor Honda Vario, saya merasakan sangat membutuhkan mobil karena sepeda motor tidak cukup jika ingin keluar bersama keluarga, istri dan tiga anak.

Berdoa, berdoa, berdoa dan berusaha, akhirnya Allah kabulkan. Allah Maha Mengetahui kebutuhan hambaNya.

Ada seseorang mengantarkan mobil Toyota Avanza ke rumah lengkap dengan semua variasinya untuk diberikan kepada saya, Subhanallah walhamdulillah, masya Allah..

Saya selalu berdoa kebaikan untuk orang yang memberi tersebut, semoga Allah berikan rizki yang barokah dan hidupnya bahagia dunia akhirat, aamiin.

Alhamdulillah, naik mobil full ac, tidak kepanasan, tidak kedinginan, tidak kehujanan, bisa keluar bersama keluarga, dan kebaikan-kebaikan lainnya, alhamdulillah, terima kasih ya Allah, hamba bersyukur kepadaMu.

Beberapa bulan yang lalu sepeda motor Honda Vario saya jual, kemudian beli Yamaha NMAX, alhamdulillaah alladzi bini’matihi tatimmushsholihaat, segala puji bagi Allah yang dengan nikmatNya menjadi sempurna semua kebaikan..

Disamping mobil, sepeda motor juga diperlukan diantaranya untuk antisipasi kemacetan terutama jika ada dua jadwal kajian yang berjauhan tempat. Kalau naik mobil pasti terlambat, kalau naik motor insya Allah tidak terlambat, apalagi naik Yamaha NMAX.

Masya Allah, Tabarakallah.. Masya Allah La Quwwata Illaa Billaah.. Yamaha NMAX 150 cc memang masya Allah, motor matic yang mirip moge (motor gede).

Kalau naik Yamaha NMAX itu bawaannya ingin ngebut melulu karena tarikannya mantap, tenang dan benar-benar nikmat, alhamdulillah.

Kalau pas ngebut saya selalu teringat kisah menarik dua ulama besar, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahumallah.

Pada suatu hari seorang penuntut bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah di mobil Beliau. Syaikh Al-Bani rahimahullah mengemudikan mobil dengan cepat (mengebut).

Sang penuntut ilmu berkata kepada Beliau: “Pelan Syaikh, sesungguhnya Syaikh Bin Baz rahimahullah berpendapat bahwa mengebut itu menjeremuskan diri dalam kebinasaan”.

“Itu adalah fatwa dari seorang yang belum pernah mencoba seni mengemudi.” jawab Syaikh Al-Albani rahimahullah.

Maksud Beliau, Syaikh Bin Baz rahimahullah itu adalah seorang yang buta dan mengeluarkan fatwa seperti itu lantaran tidak bisa dan tidak pernah mengemudi. Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan seperti itu tanpa bermaksud mengejek Syaikh Bin Baz rahimahullah sedikitpun karena Beliau berdua adalah sahabat karib.

Penuntut ilmu itu berkata: “Bolehkah aku beritahukan kepada Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang hal ini?”.

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjawab: “Silahkan beritahukan saja kepada beliau”.

Tatkala penuntut ilmu itu menceritakan kepada Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang apa yang dikatakan Syaikh Al-Albani rahimahullah, Beliau-pun tertawa seraya berkata: “Katakan kepada Beliau, bahwa apa yang Beliau katakan itu adalah fatwa orang yang belum pernah mencoba membayar diyat”.

Maksud Syaikh Bin Baz rahimahullah, Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan seperti itu karena belum pernah menabrak orang lain hingga meninggal dunia, sehingga wajib membayar diyat (tebusan dan ganti rugi) atasnya.

Indahnya akhlak dan persahabatan para ulama, semoga Allah merahmati mereka semua, aamiin.

Semoga Allah selalu menjaga, memelihara dan melindungi kita semua dari semua keburukan, aamiin.

Malang, Jum’at 05 Ramadhan 1437 / 10 Juni 2016

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

Alhamdulillah

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.