Faedah dari Taushiyah Fadhilatusy Syaikh Prof. Dr. Khalid bin Abdullah Al-Mushlih hafidhahullah (Bagian ke 6)

Faedah dari Taushiyah Fadhilatusy Syaikh Prof. Dr. Khalid bin Abdullah Al-Mushlih hafidhahullah, Murid senior, menantu dan salah satu pengganti Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin Rahimahullah, Mufti propinsi Al-Qasim, Anggota Dar Ifta, Pengajar di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah, Dosen Pasca Sarjana Fakultas Syari’ah Universitas Al-Qasim KSA.

Taushiyah ini Beliau sampaikan pada hari Sabtu, 27 Rabi’uts Tsani 1437 / 06 Februari 2016 bertempat di Masjid An-Nur Jagalan Malang pada pukul 09.00 sampai Dhuhur dengan tema Ukhuwah Islamiyah.

(Bagian ke 6)

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menetapkan hak-hak yang harus dipenuhi oleh sesama muslim sebagaiman diriwatatkan oleh sahabat Abu Hurairah –Radhiallahu ‘Anhu, telah bersabda Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam:
“Hak sesama muslim ada enam:
-Apabila berjumpa maka ucapkanlah salam,
-Apabila diundang penuhilah undangannya,
-Apabila meminta nasehat maka nasehatilah,
-Apabila bersin lalu memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah) maka doakanlah (Yarhamukallah/semoga Allah merahmatimu),
-Apabila sakit maka jenguklah,
-Dan apabila meninggal dunia maka antarkanlah jenazahnya.”
(HR. Muslim)

Hubungan sesama orang beriman terus berlanjut walaupun sudah meninggal dunia yaitu dengan merawat jenazahnya, menyalati dan menguburkannya.

Kalau kita praktekkan hak-hak ini pasti akan timbul saling cinta.

Hati yang bersih adalah syarat utama agar terealisasikan persaudaraan ini, yaitu kita mencintai kebaikan untuk saudara kita sebagaimana kita mencintai untuk diri kita sendiri dan kita benci keburukan untuk saudara kita sebagaimana kita benci untuk diri kita sendiri. Jadi ada permasalahan “hati” dibalik semua ini.

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam juga melarang semua yang berpotensi merusak dan melemahkan persaudaraan ini dan menimbulkan perpecahan, Beliau bersabda:
“Janganlah kalian saling hasad (iri dengki), janganlah saling menipu, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual apa yang telah dijual ke orang lain. Hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara sesama muslim. Tidak mendzaliminya, tidak membiarkannya (tanpa menolongnya), tidak mendustakannya dan tidak merendahkannya. Sesama muslim itu terjaga darah, harta dan kehormatannya”.
(HR. Muslim)

Hendaklah kita tidak melihat diri kita lebih tinggi dan lebih mulia dari orang lain, jangan ujub atau bangga diri sehingga meremehkan orang lain.

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam ada seorang sahabat yang tertangkap meminum khamer kemudian dihukum cambuk, lalu ada seorang sahabat lain yang melaknat atau mengutuk sahabat tersebut, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam melarangnya seraya mengatakan:
“Jangan melaknat dia. Demi Allah aku tidak mengetahui tentang dia melainkan dia mencintai Allah dan RasulNya”. (HR. Bukhari)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam mengajarkan walau seseorang itu berbuat kesalahan, dia tetap seorang muslim dan mukmin yang dilarang untuk dihina dan diremehkan, namun hukum tetap ditegakkan.

[Ditulis dan disarikan oleh penerjemah pada acara tersebut; Abdullah Sholeh Hadrami]

— bersambung bagian ke 7 —

Unaizah

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *