Rosminah, TKW yang Tewas Dimakan Anjing Majikannya

TEMPO Interaktif, Surabaya – Buku itu dimulai dari kisah Rosminah, 27 tahun, seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kediri, Jawa Timur, yang bekerja di Hong Kong pada 2008 silam.

Dalam suratnya yang menjadi salah satu cerita dalam buku berjudul Surat Berdarah untuk Presiden, Rosminah menuturkan kisah pilu kepergiannya ke Hong Kong.

Rela meninggalkan keluarga dan seorang anaknya, Rosminah bekerja untuk seorang majikan di kawasan Tai Po, Hong Kong. Niatnya untuk menjadi pembantu rumah tangga. Namun, Rosminah harus mengurus lima ekor anjing herder majikannya. Sejak awal, sebagai muslimah, Rosminah sebenarnya menolak pekerjaan itu. Namun, karena sudah telanjur berada di Hong Kong, dirinya tak kuasa untuk menolaknya.

Perlakuan majikannya sungguh di luar kewajaran. Tidak sebatas merawat, Rosminah pun harus tidur sekandang dengan anjing-anjing tersebut. Tidak hanya itu, jika ada seekor anjing yang sakit, Rosminah dihukum lima hari dengan tidak diberi makan.

“Hari pertama, Rosminah masih bisa menahan lapar dengan berpuasa,” kata Suprapti, bagian Divisi Advokasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemerhati masalah TKI, Migrant Institute, ketika menceritakan kisah ini di kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Surabaya, Jumat siang, 1 Juli 2011.

Hari kedua, Rosminah berpikir untuk memakan makanan anjing, namun niatnya itu urung karena makanan telah habis dimakan oleh lima ekor anjing yang dirawatnya. Hingga pada hari ketiga, rasa lapar memaksa Rosminah memakan sebagian makanan anjing.

Namun, nasib nahas menimpa Rosminah pada malam harinya. Rosminah lupa merantai anjing-anjing tersebut. Padahal, saat itu ada di antara anjing tersebut yang sedang kelaparan. Akibatnya sungguh buruk bagi Rosminah. Pada malam itu, tangan dan tubuh Rosminah dimakan anjing hingga ajal menjemputnya.

“Kisah ini hanyalah bagian kecil dari kisah pilu TKI. Dalam buku ini setidaknya terdapat 30 kisah pilu lainnya yang dikisahkan oleh para TKI berbeda,” ujar Suprapti, yang juga bekas TKW di Hong Kong selama empat tahun.

Buku yang berisi kisah pilu para TKI itu rencananya akan diberikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Selain buku tersebut, Migrant Institute juga menyerahkan satu buku lagi yang juga berisi curahan hati para TKI di tiga negara, yaitu Hong Kong, Taiwan, dan Makao. Buku kedua ini berisi curahan hati TKI yang diceritakan kepada seorang penulis dan bukunya diberi judul Kepada Yth Presiden RI.

Ali Yasin, Koordinator Migrant Institute menambahkan, penyerahan buku ini untuk menggugah hati Presiden SBY supaya menghentikan pengiriman TKI ke luar negeri. Kalaupun tidak dihentikan, proses pengiriman harus lebih diperketat lagi. “Pemerintah harus optimalkan peran dan fungsi perlindungan TKI di negara yang belum terkena moratorium,” ucap Ali.

Ali juga mendesak pemerintah menghentikan proses pengiklanan TKI asal Indonesia sebagai tenaga kerja murah. Dia mencontohkan selama ini Badan Koordinasi Penanaman Modal selalu melancarkan promosi bahwa TKI asal Indonesia murah. Hal ini harus dihentikan.

Migrant Institute juga mendesak pemerintah untuk menjelaskan penggunaan dana perlindungan TKI sebesar US$ 15 yang harus dibayarkan oleh setiap TKI ketika berangkat. Jika saat ini TKI asal Indonesia yang tersebar di 48 negara berjumlah lebih dari 6.000.000 orang, bisa dibayangkan berapa miliar dolar dana perlindungan yang sudah diterima pemerintah.

“Kenyataannya, untuk proses pembebasan tebusan TKI yang akan dihukum pancung saja pemerintah bingung ambil dana dari mana,” paparnya.

Sementara itu, di kantor Gubernur Jawa Timur, dua buku tersebut dititipkan kepada Gubernur Soekarwo untuk kemudian diserahkan kepada Presiden SBY.

FATKHURROHMAN TAUFIQ

http://www.tempointeraktif.com/hg/surabaya/2011/07/01/brk,20110701-344216,id.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *