Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Perempuan di Mesir dan Jilbab (bag 8)

Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Perempuan di Mesir dan Jilbab (bag 8)

Setiap orang yang mendengar kata Mesir pasti pikirannya tertuju kepada sebuah perguruan tinggi Islam yang sangat terkenal dan termasuk tertua yaitu Al-Azhar University. Karena itulah kadang seseorang membayangkan bahwa kehidupan di Mesir sangat Islami. Namun, kalau kita telah masuk ke Mesir ternyata anggapan seperti itu tidaklah benar karena kehidupan di Mesir tidak terlalu menampakkan nilai-nilai Islami terutama apabila kita melihatnya dari sisi cara berpakaian muslimah Mesir.

Jilbab adalah pakaian untuk muslimah yang menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan yang masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama’ antara yang mewajibkan dan yang tidak mewajibkan dengan mengatakan bahwa menutup wajah dan telapak tangan hukumnya sunnah atau afdhal. Sumber fitnah adalah kecantikan dan kecantikan itu terletak di wajah. Maksudnya adalah kecantikan luar, terlepas apakah akhlaknya juga cantik seperti wajahnya atau tidak. Ini adalah fenomena yang paling tampak di Mesir.

Mayoritas muslimah di Mesir sudah berjilbab, namun sayang seribu sayang jilbab yang mereka kenakan kebanyakan masih jauh dari jilbab yang sesuai aturan syari’at karena jilbab mereka rata-rata adalah jilbab gaul, modis dan ketat yang masih menampakkan keindahan tubuh serta cukup menimbulkan fitnah atau godaan.

Dalam Islam, perempuan mempunyai nilai yang sangat mahal dan tinggi serta mulia ibarat mutiara yang harus disimpan rapi, dijaga, dilindungi dan dipelihara. Fungsi jilbab dalam syari’at cukup banyak, diantaranya untuk menutupi keindahan tubuh perempuan dari laki-laki yang bukan mahramnya (yang benar mahram, bukan muhrim, karena muhrim artinya orang yang sedang ihram haji atau umrah) agar supaya terhindar dari fitnah. Supaya laki-laki tidak tergoda oleh perempuan itu dan supaya perempuan itu selamat dari bahaya laki-laki yang bermaksud buruk kepadanya. Fitnah (godaan) perempuan adalah merupakan fitnah yang paling berbahaya bagi laki-laki sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih.

Seorang perempuan muslimah hanya mempersembahkan keindahan tubuhnya untuk suaminya saja. Halal bagi suami menikmati keindahan isterinya dari ujung rambut sampai ujung kuku. Suami isteri bukan hanya halal saja, tetapi juga berpahala. Sungguh indah syari’at Islam.

Seorang perempuan yang tidak berjilbab atau berjilbab tapi masih belum sesuai syari’at akan menggoda laki-laki. Kerusakan yang ditimbulkannya bukan hanya terhadap dirinya saja akan tetapi berdampak kepada orang lain. Seorang lelaki yang shalih lagi bertakwa sekalipun akan rusak olehnya. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam salah satu sabdanya yang sahih mengatakan bahwa “perempuan yang berpakaian tapi telanjang” tidak akan masuk surga dan bahkan tidak akan mencium bau wangi surga!.

Maksud sabda Nabi “perempuan berpakaian tapi telanjang” adalah berpakaian akan tetapi masih menampakkan keindahan tubuhnya, seperti berpakaian yang ketat, tipis, mini dan semisalnya sehingga ada istilah “berjilbab tapi telanjang” karena setengah-setengah dalam berjilbab dan masih belum kaaffah (total).

Dengan berjilab yang sesuai aturan syari’at akan tampak kehormatan seorang muslimah yang membedakannya dari perempuan murahan dan dari perempuan non muslim. Sungguh, perempuan yang berjilbab sesuai syari’at akan tampak begitu mulia, terhormat dan tinggi nilainya.

Penulis pernah mendapat pertanyaan dari salah seorang akhwat di website seperti ini:
Berjilbab (apakah harus hatinya dulu)?
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Abdullah,
Penjelasan apa yang kiranya “tepat&mengena” ketika kita dihadapkan dengan sodara muslim kita (pr) pd khususnya yg berkata demikian :
” lebih baik dijilbabin dulu hatinya,dibenerin dulu,baru deh nanti jilbab’an . Lha daripada nanti copat-copot, kan kasian juga Islam jadi jelek di mata orang. Blablabla…” gitu ustadz.
Saya berharap, nanti ..sapa tahu kalau akhwat-akhwat di seantero Indonesia tercinta ini ketemu orang yg demikian bisa ditegur dengan nasehat/wejangan yang “pas ” yang ustadz kasih :).
Jazakalloh.

Penulis menjawab:

Waalaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh.
Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat, amma ba’du;
Saudaraku -Barokalloh Fiik,
Saya ingin bertanya kepada mereka yang mengatakan seperti itu: “Bagaimana cara men-jilbab-i hati?”
Bukankah hati menjadi tertutup jilbab apabila jilbabnya ada di hati?…Karena hatinya tertutup jilbab akhirnya mereka tidak lagi bisa berpikiran jernih dan benar, sehingga mereka mengatakan seperti itu…
Jilbab itu bukan di hati, tapi jilbab itu menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Sebagian Ulama’ mengatakan wajah dan telapak tangan juga wajib di tutup, dan sebagian yang lain mengatakan tidak wajib akan tetapi sunnah dan afdhal.
Allah Ta’aala berfirman: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59).
Yang benar adalah; TUBUHNYA DI-JILBAB-IN DAN HATINYA DI-BENER-IN, keduanya wajib dilakukan oleh semua perempuan muslimah.
Jadi, kewajibannya ada dua, yaitu tubuhnya di-jilbab-in dan hatinya di-bener-in. Seandainya kewajiban yang satu masih belum bisa dikerjakan maka kewajiban yang satunya tetap harus dikerjakan dan tidak digugurkan. Seandainya hatinya masih belum bisa dibenerin, tetap wajib atasnya agar tubuhnya di-jilbab-in.
Semoga Jelas dan Mencerahkan.
Wallaahul Musta’aan.

Fenomena “perempuan berjilbab tapi telanjang” ini kami saksikan dimana saja kami berada ketika di Mesir. Di Cairo, di Alexandria, di Al-‘Arisy dan tempat-tempat lainnya.

Semoga Allah membuka pintu hati semua muslimah untuk berIslam secara kaaffah (total), tidak setengah-setengah dan tidak pilih-pilih dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam yang indah dan penuh hikmah supaya meraih kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Ingat, menunda-nunda berjilbab secara syar’i berakibat fatal. Boleh jadi, nyawa dicabut oleh Malaikat Maut dalam keadaan belum berjilbab sesuai syari’at karena selalu menunda-nundanya dan diantara tipu daya setan adalah selalu menggoda manusia untuk selalu menunda-nunda berbuat kebaikan. [Abdullah Shaleh Hadrami/ASH]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *