Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Pamit Berangkat ke Gaza (bag 4)

Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Pamit Berangkat ke Gaza (bag 4)

Hampir satu bulan menunggu kepastian keberangkatan ke Gaza. Sempat ada kekhawatiran tidak jadi berangkat. Hari Kamis 8 Juli 2010 saya mendapat kabar dari BSMI pusat bahwa kemungkinan para relawan BSMI berangkat hari Sabtu 10 Juli 2010 akan tetapi kepastiannya akan diberitahukan lagi pada hari berikutnya, yaitu hari Jum’at.

Setelah mendapat kabar itu, saya langsung kontak beberapa “orang berada” yang berminat menitipkan bantuan untuk saudara-saudara kita di Palestina dan alhamdulillah mereka menyanggupi untuk titip bantuan. Dalam waktu singkat terkumpul dana cukup besar, bahkan beberapa orang yang tidak saya kontak ternyata juga datang ke rumah untuk menitipkan bantuan tersebut kepada saya agar diberikan untuk saudara-saudara kita di Palestina. Jazahumulloh khoir, semoga Allah memberikan kepada mereka barokah dan balasan kebaikan yang berlipat ganda di dunia dan di akhirat, amien.

Hari Jum’at 9 Juli 2010 kami mendapat kabar dari BSMI pusat bahwa keberangkatan relawan ditunda sampai ada kepastian keluarnya visa masuk Gaza melalui Rafah Mesir dari pemerintah Mesir. BSMI pusat memutuskan untuk memberangkatkan Bapak Muhammad Djazuli Ambari, SKM, MSi. (Secretary General BSMI Pusat) agar beliau bisa membantu pengurusan visa tersebut di Mesir. Kemudian saya kontak Pak Djazuli dan Pak Dr. Basuki agar supaya saya diijinkan berangkat berdua bersama Pak Djazuli ke Mesir untuk membantu pengurusan visa tersebut di Mesir dan akhirnya usulan saya diterima. Diputuskan kami berdua berangkat hari Sabtu 10 Juli 2010 dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng Jakarta.

Keputusan ini pada hari Jum’at 9 Juli 2010 sore hari. Sore itu pula saya kontak murid-murid mulazamah dan jama’ah pengajian Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah serta karib kerabat dan tetangga dan saya beritahukan kepastian keberangkatan saya ke Gaza keesokan harinya dan saya minta mereka untuk hadir di masjid An-Nur Jagalan Saleyer Malang pada waktu ‘Isya’ karena setelah shalat ‘Isya’ saya hendak menyampaikan wasiat, menyampaikan permohonan maaf dan sekaligus pamit.

Setelah selesai shalat ‘Isya’, saya sampaikan beberapa wasiat kepada para jama’ah yang hadir di masjid An-Nur, intinya supaya bertakwa kepada Allah dan istiqomah mengikuti sunnah Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam serta terus berusaha menegakkan kebenaran dan memberantas kedhaliman. Saya memohon maaf kepada semuanya atas semua kesalahan saya yang sengaja atau tidak dan sekaligus pamit berangkat ke Gaza Palestina yang penuh resiko dan ada kemungkinan tidak kembali lagi selamanya karena gugur sebagai syahid (insya Allah).

Setelah itu kami saling berjabat tangan dan berangkulan dengan penuh keharuan seakan-akan ini adalah pertemuan terakhir kami sehingga para jama’ah yang hadir, yaitu murid-murid, kerabat, teman, tetangga dan jama’ah masjid An-Nur lainnya tanpa terasa berlinang air mata. Benar-benar haru suasana saat itu. Rasanya berat dan kasihan kalau harus meninggalkan jama’ah masjid terutama murid-murid mulazamah dan merekapun juga mempunyai perasan seperti itu.

Pagi hari Sabtu 10 Juli 2010 para tamu berdatangan ke rumah untuk memberikan dukungan dan doa restu. Keluarga, tetangga, teman, pendengar setia RDI [Radio Dakwah Islamiyyah], jama’ah pengajian dan yang lainnya. Besar, kecil, tua, muda, laki, perempuan semua kumpul di rumah dengan penuh suasana haru. Bahkan ada beberapa pendengar setia RDI yang menangis tersedu-sedu karena akan berpisah dengan ustadznya. Mereka mengatakan bahwa mereka mendapatkan hidayah dari Allah ke jalan yang benar melalui RDI, walhamdulillah.

Sekitar pukul 10 pagi kami berangkat menuju airport Abdurrahman Saleh Malang. Saat itulah kembali terjadi banjir air mata terutama dari kaum wanita. Hampir semuanya menangis karena mereka menyangka bahwa ini adalah saat terakhir berjumpa dengan saya karena setelah itu saya akan pergi selamanya.

Banyak juga para pengantar yang ikut serta mengantarkan sampai airport Abdurrahman Saleh Malang terutama dari kalangan kerabat, tetangga, jama’ah pengajian dan teman, tentu tidak ketinggalan isteri tercinta dan anak-anak tersayang.

Pesawat Malang-Jakarta yang rencana berangkat sekitar pukul 12 siang ternyata tertunda keberangkatannya sampai pukul 15.30, tertunda sekitar 3 jam. Para pengantar akhirnya shalat Dhuhur di airport dan setelah itu saya persilahkan mereka untuk pulang karena kasihan kalau mereka harus menunggu di airport sampai keberangkatan saya yang tertunda pesawatnya tersebut. Merekapun pulang semua kecuali isteri tercinta yang tetap setia menemani sampai keberangkatan.

Sekitar pukul lima sore saya telah berada di bandara Soekarno Hatta, Cengkareng Jakarta dan saat itu telah menunggu kami Bapak Sarprihanto dari BSMI pusat sebagai pengantar dan Pak Djazuli yang akan ikut berangkat. [Abdullah Shaleh Hadrami/ASH]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *