Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Kunjungan ke RS Asy-Syifa’ dan Pusat Ambulance di Gaza (bag 11)

Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Kunjungan ke RS Asy-Syifa’ dan Pusat Ambulance di Gaza (bag 11)

Hari Kamis 22 Juli 2010 / 10 Sya’ban 1431 adalah hari kedua kami di Gaza Palestina. Pagi hari kami menghubungi Sayyid Ahmad dari kementrian kesehatan Palestina yang kemarin menjemput kami dan mengantarkan kami ke hotel kami meminta kepada beliau agar supaya memindahkan kami ke tempat yang memungkinkan kami untuk berinteraksi dengan masyarakat Gaza secara langsung dan kami meminta tempat yang sederhana bersama masyarakat pada umumnya karena kami sangat menginginkan untuk mendapat informasi sebanyak-banyaknya tentang kehidupan di Gaza.

Sekitar pukul 11.30 waktu Gaza kami dijemput oleh Sayyid Ahmad beserta beberapa staffnya dan seseorang yang rencananya kami akan tinggal di rumahnya selama kami di Gaza, beliau bernama Namir, pegawai Depkes Gaza, dosen olah raga di Islamic Univesity of Gaza, pemilik restoran Salsabil dan ternyata beliau juga termasuk petinggi di Brigade Izzuddin Al-Qassam sayap militer Hamas. Kami meninggalkan hotel menuju rumah pak Namir untuk meletakkan barang-barang bawaan kami kemudian kami menuju ke RS Asy-Syifa’.

Kepala RS Asy-Syifa Dr Husain ‘Asyur langsung menyambut kami di kantornya dengan penuh hormat dan senang hati. Demikianlah masyarat Gaza pada umumnya, sangat menghormati para relawan yang datang ke Gaza dan menyambut dengan tulus dan senang hati. Beliau menceritakan kepada kami bahwa bantuan rakyat Indonesia pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 2009 ketika terjadi penyerangan Israel, masih tersisa dan mereka benar-benar memanfaatkan bantuan tersebut dengan sebaik-baiknya. Setelah itu kami dipersilahkan keliling rumah sakit untuk melihat secara langsung kondisi rumah sakit.

Kami mengunjungi UGD, ICU, bagian jantung, kanker, ginjal dll. Di setiap bagian tersebut kami selalu disambut dengan baik dan penuh hormat oleh kepala bagian masing-masing dan kami selalu mendapat penjelasan tentang apa saja yang perlu kami ketahui. Banyak obat-obatan yang mereka butuhkan namun sulit mereka dapatkan karena dipersulit untuk masuk ke Gaza oleh pemerintah Mesir atau pemerintah Israel, penjajah bumi Palestina. Terutama mereka sangat membutuhkan obat-obatan untuk penyakit kanker dan peralatan untuk cuci darah. Tidak jarang pasien meninggal dunia karena ketidakmampuan RS menanganinya disebabkan minimnya obat-obatan dan peralatan medis yang tersedia. Adakalanya pasien disarankan untuk berobat ke luar negeri akan tetapi dipersulit oleh pemerintah Mesir atau Israel untuk melewati perbatasan sehingga tidak jarang pasien tersebut meninggal dunia di perbatasan karena harus menunggu ijin yang cukup lama untuk melewatinya. Sungguh mulia para dokter yang melayani pasien mereka dengan sepenuh hati.

Subhanallah.. Kesehatan adalah termasuk nikmat yang besar setelah nikmat iman. Kita harus pandai-pandai mensyukuri kesehatan yang Allah berikan kepada kita. Sehat itu mahal. Tanpa kesehatan semua nikmat akan terasa sia-sia. Menjaga kesehatan adalah lebih penting daripada harus berobat karena sakit. Ya Allah, berikanlah kepada kami kesehatan iman dan kesehatan badan, amien.

Betapa tega manusia-manusia yang membiarkan orang sakit untuk tetap sakit karena dipersulit untuk berobat. Hati macam apa yang sampai tega melarang orang sakit untuk berobat dan membiarkannya mati karena dipersulit untuk berobat. Orang yang tidak mempunyai sifat penyayang tidak akan pernah disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Hanya orang-orang yang penyayang saja yang layak disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Seorang pelacur yang memberi minum anjing yang sedang kehausan diampuni dosa-dosanya oleh Allah dan dimasukkan ke dalam surga karena sifat kasih sayangnya kepada anjing, binatang yang paling najis itu. Bagaimana pula kalau sayang kepada manusia? Bagaimana pula kalau manusia itu adalah saudara seiman? Sungguh sangat disayangkan, pada jaman yang katanya moderen ini masih ada manusia-manusia yang tidak berhati manusia.

Setelah keliling RS, kami meluncur menuju pusat ambulance di Gaza dan kami disambut langsung oleh kepala tertinggi yang menangani ambulance, bapak Mu’awiyah Hasanain dan staffnya. Sebagaimana biasa, sambutannya sangat hangat dan bersahabat. Beliau, bapak Mu’awiyah Hasanain menjelaskan kepada kami bahwa kebutuhan ambulance di Gaza sudah cukup karena telah banyak yang menyumbang, akan tetapi yang dibutuhkan saat ini adalah peralatan-peralatan memadai yang harus ada dan diperlukan di dalam ambulance itu sendiri. Beliau dan staffnya mengajak kami keliling untuk survey langsung macam-macam ambulance yang ada sekaligus menunjukkan dan menjelaskan kepada kami kebutuhan yang diharapkan terpenuhi. Fungsi ambulance di Gaza sangat penting diantaranya untuk evakuasi korban serangan tentara Zionis Yahudi yang sering terjadi dan mendadak bahkan adakalanya ambulance juga mereka serang, padahal dalam peperangan dilarang menyerang ambulance, tapi itulah yang namanya Zionis Yahudi telah hilang hati nurani mereka. Setelah itu kami pulang ke rumah pak Namir. [Abdullah Shaleh Hadrami/ASH]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *