Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Kesan Pertama di Gaza (bag 10)

Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Kesan Pertama di Gaza (bag 10)

Hari Rabu 21 Juli 2010 M / 9 Sya’ban 1431 H sekitar pukul 17.30 waktu Palestina kami masuk Gaza setelah tertahan di imigrasi Rafah Mesir sekitar satu jam. Kami dijemput oleh utusan dari Ministry of Health Gaza, Sayyid Ahmad dan staffnya. Kami disambut dengan hangat dan penuh hormat dan mendapat perlakuan istimewa dibanding warga lainnya karena mereka tahu bahwa kami adalah relawan yang datang dengan misi kemanusiaan. Kami merasakan bahwa penyambutan tersebut sangat istimewa seakan menyambut pejabat negara, walhamdulillah. Ini benar-benar penghormatan terhadap tamu yang patut dicontoh dan merupakan tata cara yang diajarkan dan disyari’atkan dalam Islam.

Setelah itu kami diantar keliling Gaza melihat situasi dan kondisi secara langsung, dan beliau (Sayyid Ahmad dan staffnya) bercerita banyak kepada kami tentang Gaza selama dalam perjalanan . Subhanallah.. Kami sekarang berada di tempat yang pada tahun sebelumnya diserang secara brutal dan membabi buta oleh Zionis Yahudi, yang saat itu kami sangat ingin untuk ikut berperang dan bahkan gugur sebagai syahid bersama-sama saudara-saudara kami di bumi Palestina.. Subhanallah.. Sekarang kami telah berada di bumi tersebut, menghirup udaranya, meminum airnya dan menginjak tanahnya.. Bumi para Nabi Alaihimus Salam, negeri Isra’ dan Mi’raj, tanah para syuhada’, tempat kelahiran Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah…

Kehidupan masih normal di Gaza walaupun mereka diboikot dan dipersulit. Dalam perjalanan kami beberapa kali melihat arak-arakan pengantin yang sederhana tapi meriah, orang-orang yang berlalu-lalang dan anak-anak yang bermain. Pantai Gaza yang terkenal keindahannya juga cukup ramai oleh keluarga-keluarga yang berlibur karena saat itu adalah saat liburan panjang sekolahan, bangunan-bangunan, hotel dan pertokoan juga cukup normal walaupun masih terlihat sisa-sisa bangunan yang masih hancur.

Bendera Turki banyak kami jumpai di Gaza karena kepedulian pemerintah dan warga Turki terhadap Gaza terutama setelah kasus kapal Mavi Marmara. Turki telah menyatu di hati warga Gaza, bahkan perdana menteri Palestina dalam salah satu sambutannya mengatakan bahwa darah warga Palestina telah menyatu dengan darah warga Turki. Kami juga melihat mobil UN / PBB serta organisasi-organisasi kemanusiaan lain di jalan-jalan Gaza.

Kami diantar ke sebuah hotel cukup mewah untuk ukuran Gaza, Commodore Hotel yang terletak di tepi pantai Gaza. Sebenarnya kami juga cukup heran karena di Gaza masih ada hotel yang cukup mewah, padahal yang ada dalam bayangan kami adalah bahwa Gaza telah hancur dan yang tersisa hanyalah kehidupan di tenda-tenda pengungsi atau penampungan. Ketika telah berada di kamar hotel kami melakukan sujud syukur atas nikmat Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menginjak bumi Palestina yang diidam-idamkan setiap lelaki muslim mujahid. Namun demikian, kami tidak terlalu suka tinggal di hotel tersebut dengan kemewahannya karena yang kami inginkan adalah tinggal dan membaur bersama warga Palestina dengan segala kesedehanaannya.

Malam harinya kami merasakan lapar dan harus mencari makan di luar karena restoran hotel tempat kami menginap masih dalam perbaikan, juga kami perlu tukar mata uang setempat. Kami menunpang taksi ke tempat penukaran uang (Money Changer) dan kami sempat kaget ternyata mata uang yang berlaku di Palestina adalah mata uang Israel, Seqel (Syeikel). Nilai tukarnya 100 USD = 387 Seqel. Zionis Yahudi benar-benar telah menjajah bangsa Palestina dalam banyak hal, termasuk dalam hal ekonomi dan ummat Islam harus menyadari hal ini.

Supir taksi yang kami tumpangi mengeluh karena listrik di Gaza sangat terbatas antara 8-14 jam dalam sehari padahal saat itu adalah musim panas yang sangat diperlukan pendingin ruangan untuk menghilangkan gerah dan keringat. Instalasi listrik Gaza telah hancur karena di bombardir oleh Zionis Yahudi sehingga pasokan listrik juga berasal dari Israel. Warga Gaza kebanyakan menggunakan diesel sehingga suara diesel terdengar di mana-mana. Kita bayangkan bagaimana kalau hal seperti ini terjadi kepada kita, padahal mati listrik sebentar saja kita sudah bingung, marah-marah dan ribut.

Harga makanan dan kebutuhan sehari-hari cukup mahal dibanding Mesir atau Indonesia karena barang-barang tersebut masuk Gaza melalui terowongan-terowongan yang jumlahnya cukup banyak, bahkan mobil-pun juga masuk melalui terowongan tersebut. Suasana malam hari di Gaza tidak terlalu terang karena minimnya lampu-lampu dan penerangan yang ada.

Subhanallah.. Warga Gaza benar-benar tegar dengan pertolongan Allah! Walau mereka ditindas, dipersulit, diboikot dan selalu berada dalam ancaman dan bahaya serangan Zionis Yahudi, mereka hidup dengan damai dan tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa karena sudah terbiasa hidup dalam penindasan Zionis Yahudi sehingga seakan-akan penindasan itu sudah merupakan kebiasaan dan rutinitas yang harus mereka jalani. [Abdullah Shaleh Hadrami/ASH]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *