Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Keinginan Menjadi Relawan (bag 3)

Pelajaran dari Perjalanan ke Gaza; Keinginan Menjadi Relawan (bag 3)

Alhamdulillah Allah menjadikan jiwa dan hati ini selalu ingin menjadi relawan dalam aksi sosial setiap ada bencana alam, bencana kemanusiaan atau bencana-bencana lainnya yang membutuhkan pertolongan, bantuan dan solidaritas.

Ketika bencana tsunami di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2005, mata ini selalu berkaca-kaca dan menangis menyaksikan bencana yang menimpa saudara-saudara kita dan selalu bermohon kepada Allah untuk memberi kesempatan menolong mereka secara langsung.

Alhamdulillah Allah mengabulkan doa kami dan kami dimudahkan oleh Allah untuk ikut serta menjadi relawan melalui Siwakz Alsofwa Utusan Bakornas PBP (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi) dan karena itu pula mendapat penghargaan dari Bapak Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono berupa Piagam Tanda Kehormatan dan Tanda Kehormatan Satyalencana Kebaktian Sosial tertanggal 28 September 2005, walaupun penghargaan ini bukanlah tujuan kami.

Termasuk permasalahan Palestina, hati ini tidak pernah tenang dan damai melihat kedzaliman dan sikap kesewenang-wenangan Zionis Yahudi terhadap saudara-saudara kita di bumi Palestina. Solidaritas Palestina selalu kami galang dan gelar, dan alhamdulillah selalu mendapat respon positif dari masyarakat berupa dukungan dalam berbagai macam dan bentuk termasuk dana yang tidak sedikit jumlahnya.

Allah memudahkan kami untuk bertemu dengan Syaikh Abu Bakar Al-‘Awawidah, anggota Rabithatul Ulama’ Filistin (Palestina) di Suriah, beliau juga termasuk salah seorang pendiri HAMAS bersama Asy-Syahid (insya Allah) Syaikh Ahmad Yasin -Rahimahullah. Beliau (Syaikh Abu Bakar Al-‘Awawidah) sempat dipenjara dan disiksa oleh Zionis Yahudi sehingga mata beliau buta dan punggung beliau sedikit bungkuk. Saat itu Beliau didampingi Syaikh Ziad Al-Qisyani, Koordinator Bantuan Kemanusiaan Internasional untuk Palestina yang berbasis di Suriah. Kami bertemu beliau di Villa Hidayatullah Batu Malang pada April 2009. Beliau (Syaikh Abu Bakar Al-‘Awawidah) dan Syaikh Ziad Al-Qisyani sempat memberikan kepada kami Piagam Penghargaan dari HAMAS dan Lencana Pembebasan Al-Aqsha. Setelah pertemuan itu kami semakin termotivasi untuk memperjuangkan Palestina.

Pada waktu Zionis Yahudi menyerang Gaza 2008/2009, setelah mengadakan solidaritas Palestina bersama Masjid An-Nur Jagalan-Saleyer Malang dan RDI (Radio Dakwah Islamiyyah) 100,5 FM Malang dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat serta dana yang cukup besar yang kemudian kami salurkan melalui BSMI, KISPA dan KNRP, kami sempat mendaftar untuk menjadi relawan melalui KNRP atau Komnas Rakyat Palestina, bahkan paspor sudah kami serahkan, akan tetapi Allah belum mengijinkan karena saat itu pintu Rafah, perbatasan Mesir Palestina ditutup sehingga para relawan yang sudah sampai di sana tidak bisa masuk ke Gaza dan akhirnya para relawan yang belum berangkat tidak jadi diberangkatkan.

Setelah kejadian penyerangan Zionis Yahudi terhadap kapal Mavi Marmara dengan misinya Freedom Frotilla Mei 2010 terjadilah gelombang solidaritas dari seluruh penjuru dunia agar Zionis Yahudi membuka blokade Jalur Gaza. Kami bersama Masjid An-Nur Jagalan-Saleyer Malang, RDI (Radio Dakwah Islamiyyah) 100,5 FM Malang, perwakilan MUI Malang dan Forum Ukhuwah Malang Raya mengadakan Malam Solidaritas Palestina, pemutaran film Palestina dan penggalangan dana. Alhamdulillah mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat dan juga terkumpul dana yang cukup besar yang kemudian kami salurkan melalui Sahabat Al-Aqsha dan KISPA. Kami sempat daftar menjadi relawan kepada Sahabat Al-Aqsha akan tetapi sepertinya agak sulit.

Pada hari Jum’at 18 Juni 2010 ketika kami berada di Bondowoso untuk pengajian rutin bulanan setiap Kamis dan Jum’at pekan ketiga, pagi itu kami di rumah saudara Humam Bahanan tempat kami tinggal dan menginap setiap kami ada kajian di Bondowoso, kami mendapat telpon dari Dr. Basuki Supartono, SpOT Ketua Umum BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) Pusat. Beliau menawarkan kepada kami untuk ikut serta ke Gaza Palestina dengan misi antara lain memberangkatkan sejumlah relawan kemanusiaan menuju Gaza Palestina, untuk memberikan bantuan berupa obat-obatan dan alat medis. Selain itu, BSMI juga akan memberikan pelatihan bagi tenaga medis di RS Shifa Gaza, serta menjemput 10 mahasiswa Palestina yang mendapat beasiswa pendidikan dokter spesialis di Indonesia.

Sepertinya kami “Ketiban Bulan” (bahasa Jawa, artinya Mendapat Rembulan) dengan ajakan ini, sesuatu yang kami cita-citakan tiba-tiba datang begitu saja, kami tidak menolak kesempatan emas ini padahal saat itu ada teman yang mengajak kami umrah ke tanah suci Mekkah dan Madinah gratis dengan fasilitas yang lumayan sekaligus jalan-jalan ke luar negeri. Kami lebih memilih ke Gaza Palestina walaupun penuh resiko karena kalau umrah sudah sering kami melakukannya walhamdulillah. Kami bertanya kepada Bapak Dr. Basuki tentang persyaratannya dan ternyata beliau hanya meminta supaya paspor segera dikirimkan ke Jakarta untuk pengurusan visa. Karena kami sedang di luar kota (Bondowoso), kami langsung kontak isteri tercinta agar segera mengirimkan paspor ke Jakarta.

Ternyata prosesnya cukup lama untuk mendapatkan visa masuk Mesir apalagi visa masuk Gaza melalui perbatasan Rafah Mesir. Visa masuk Mesir akhirnya keluar juga pada 29 Juni 2010, tinggal menunggu visa masuk Gaza melalui perbatasan Rafah Mesir yang tidak kunjung keluar karena pemerintah Mesir cukup ketat dalam masalah ini dan terkesan mempersulit.

Kami menunggu dengan setia keluarnya visa masuk Gaza melalui perbatasan Rafah Mesir. Rasanya tidak sabar menunggu terlalu lama dan ingin segera berangkat….

Harapan kami, semoga Allah selalu memberi kesempatan kami untuk selalu ikut aktif menjadi relawan dalam aksi sosial di dalam negeri dan luar negeri. Semoga masyarakat juga selalu peduli dan terketuk untuk turut serta berperan dalam setiap aktifitas sosial. Kami siap membantu dan bekerjasama dengan organisasi manapun selama programnya jelas, sesuai syari’at dan amanah.

Semoga Allah menjaga niat kami untuk selalu ikhlas dan semoga tulisan ini adalah bentuk syukur dengan menceritakan nikmat Allah serta agar menjadi motivasi bagi yang lainnya, amien. [Abdullah Shaleh Hadrami/ASH]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *