MANUSIA DAN SIFAT TERGESA-GESA

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (adzab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (QS. al-Anbiya’: 37)

Dan juga firman-Nya, artinya, “Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. al-Isra’: 11)

Ayat pertama menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan sifat tergesa-gesa. Yang dimaksud dengan ‘manusia’ di sini, bisa jadi semua jenis/bangsa manusia atau bisa pula Adam ’alaihissalam. Artinya, ia diciptakan dengan sifat tergesa-gesa. Manakala secara alami Adam memiliki sifat seperti ini, maka ia mendapatinya pula ada pada anak-anaknya lalu mewariskan kepada mereka sifat tergesa-gesa ini.

Menurut Ibn al-Jauzi dalam tafsirnya, Zad al-Masir, Bila yang dimaksud ‘manusia’ di sini adalah jenis/bangsa manusia, maka bisa jadi dalam redaksi ayat terdapat Taqdim (Sesuatu yang didahulukan) dan Ta’khir (sesuatu yang dikemudian kan), maknanya bahwa sifat tergesa-gesa diciptakan pada manusia.

Terdapat hadits yang menyebut kan bahwa ayat pertama di atas (surat al-Anbiya’) turun ketika orang-orang kafir Quraisy meminta disegerakan nya adzab atas mereka, lalu Allah subhanahu wata’ala ingin melarang mereka dan memberi peringatan kepada mereka. Karena itu, didahulukan celaan kepada manusia bahwa ia memiliki sifat, tabi’at dan karakter tergesa-gesa sehingga membuatnya tidak mau membuka mata dan tidak berhati-hati dalam menyampaikan tuntutannya.

Dengan makna ini tidak ada hal yang perlu dipertentangkan antara penggalan pertama ayat yang artinya, “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa” dan penutupnya, “Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkan nya dengan segera.” Masalahnya, ada sebagian orang yang mempertentangkan hal itu dengan mengatakan, bagaimana bisa di satu sisi manusia diciptakan dengan sifat dan tabiat tergesa-gesa, sementara di sisi yang lain, Allah subhanahu wata’ala melarangnya melakukan sifat yang sudah menjadi karakter dan tabiatnya itu? Bukankah ini sama dengan pembebanan dengan sesuatu yang mustahil.?

Jawaban atas pertanyaan kritis seperti ini dikatakan, bahwa benar, manusia diciptakan dengan tabiat tergesa-gesa akan tetapi ia juga mampu untuk memaksakan dirinya agar berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Sebagaimana ia diciptakan dengan sifat cinta hawa nafsu, maka di samping itu pula ia harus mampu memaksakan dirinya agar mengekangnya.!! Artinya, bahwa manusia memiliki kemampuan yang dengan nya ia dapat mengalahkan hawa nafsu dan juga meninggalkan sifat tergesa-gesa itu.!

Sementara ayat kedua di atas (surat al-Isra’) juga menjelaskan sifat tergesa-gesa manusia, lahir dan batin. Dalam ayat itu, diinformasikan mengenai sifat manusia yang ingin cepat-cepat (tergesa-gesa) dan meminta semua apa yang terbetik di dalam hati dan perasaannya serta bila sedang kecewa, maka ia berdo’a atas dirinya sendiri, anak atau hartanya dengan kematian, kebinasaan, kehancuran dan semisalnya.

Maka benarlah firman-Nya, artinya, “Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa,” (QS. al-Isra’: 11), yakni bertabiat tergesa-gesa. Di antara ketergesa-gesaannya itu adalah mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Andaikata Rabb mengabulkannya, niscaya celakalah ia dengan do’anya itu sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan kalau sekiranya Allah menyegera kan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegera kan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.” (QS. Yunus: 11)

Terkait dengan hal ini, terdapat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ya Allah, sesungguhnya Muhammad adalah manusia biasa yang dapat marah sebagaimana manusia marah. Dan sesungguhnya aku telah mengambil janji di sisi-Mu bahwa Engkau tidak akan mengingkariku akan hal itu; maka Mukmin mana pun yang telah aku sakiti, aku cela atau aku cambuk, maka jadikanlah hal itu sebagai kafarat (penghapus dosa kecil) dan taqarrub (pendekatan diri) yang dengannya Engkau dekatkan ia kepada-Mu pada hari Kiamat.” (Dikeluarkan Muslim)

Hadits ini menunjukkan sifat manusia yang suka cepat-cepat dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mengeluarkan putusan hukum, memberikan sanksi, mencela dan menginginkan kesenangan.

Pengaruh Sifat Tergesa-Gesa Pada Kesehatan Jiwa

Terdapat hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya sifat lemah-lembut (berhati-hati) tidaklah berlaku pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia membuatnya tercela.” (HR.Muslim) Hadits lainnya berasal dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang diharamkan dari sifat lemah-lembut (tidak memilikinya), maka niscaya ia diharamkan dari kebaikan (tidak mendapatkannya).” (HR.Muslim)

Sifat tergesa-gesa amat berpenga ruh pada kehidupan manusia dan segala aktivitasnya melalui dua sisi:

Pertama, Sisi Materil, di mana seseorang akan banyak kehilangan hal-hal yang bermaslahat baginya atau dapat mengakibatkan ia ditimpa penyakit, musibah, bencana dan kerugian yang bervariasi baik terhadap tubuhnya, anak, harta dan hal-hal yang dimilikinya. Ketergesa-gesaannya dalam mengambil sesuatu, berjalan, mengendarai mobil, memasak makanan, memberikan sanksi kepada anaknya dan dalam pembicaraannya; maka semua itu memiliki pengaruh materil yang amat besar dan nyata.

Oleh karena itu, dalam ayat yang lain (QS. al-Furqan: 63), Allah subhanahu wata’ala menyebut manusia yang beruntung dan sukses, yaitu seorang Mukmin dengan sifat tenang dan lemah-lembut. Demikian juga Luqman berwasiat kepada putranya agar bersifat sederhana (QS. Luqman: 19). Tidak diragukan lagi, bahwa dalam kesederhanaan itu terdapat pengaruh yang amat terpuji dan akibat baik yang tidak dapat ditakar dengan harga. Inilah yang kita dapatkan ringkasan dan maknanya dari batasan dan persyaratan yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya di atas, “Sesungguhnya sifat lemah-lembut (berhati-hati) tidaklah berlaku pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia membuatnya tercela.” Dan saat beliau bersabda, “Barangsiapa yang diharamkan dari sifat lemah-lembut (tidak memilikinya), maka niscaya ia diharamkan dari kebaikan (tidak mendapatkannya).” Dalam sifat lemah-lembut (berhati-hati) terdapat jaminan yang tegas akan berlangsung baiknya semua urusan manusia dan damainya kondisi dan kesudahannya. Sifat lemah-lembut bahkan merupa kan pintu kebaikan yang harus dimiliki setiap manusia sehingga ia dapat meraih buahnya; jika ia menghindarinya, berarti ia tidak akan mendapatkan kebaikan apa pun.

Ke Dua, Sisi Psikis/Kejiwaan, di mana sifat tergesa-gesa akan membuatnya luput dari merasakan ketenangan jiwa, ketenteraman dan kedamaian. Sifat tergesa-gesa secara dzati dan pengaruhnya dapat menimbulkan kecemasan pada manusia, membekaskan penyesalan ke dalam perasaan dan relung hatinya sehingga dapat mengganggu kesehatan jiwa dan kestabilan hatinya.

Gejala kejiwaan paling penting yang ditimbulkan sifat tergesa-gesa adalah penyesalan dan sikap menyayangkan atas apa yang telah berlalu. Ini adalah penyakit yang menghinggapi semua manusia, sedikit atau banyak.! Dan diantara sebabnya yang paling penting adalah karena tidak membiasakan jiwa untuk mengekang sifat tergesa-gesa itu.!

Di sinilah rahasia anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar memiliki sifat lemah-lembut dan pengaruhnya, wallahu a’lam.

Sumber: “Al-‘Ajalah”, karya Dr Abdul Aziz bin Muhammad an-Nughaimisi [Hanif Yahya/alsofwah]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *