Hanya Islam Yang Mampu Menjawab Masalah Ketuhanan ku

Greg Noakes melihat ada kesamaan ajaran moral di banyak agama, tapi hanya Islam yang mampu menjawab masalah Ketuhanan

Sebagai seorang anak, aku diajarakan mengenainya pentingnya nilai-nilai moral, agar bisa menilai mana yang benar atau salah dan mana yang baik atau buruk. Namun dulu, menurutku hal itu tidaklah penting untuk kehidupan sosial atau aktivitas intelektualku.

Ketika tiba saatnya untuk kuliah, aku mengambil bidang yang kusukai, sejarah. Aku mengambil kelas sejarah Timur Tengah yang menurutku bermanfaat, sebab sangat sedikit pengetahuan yang aku miliki tentangnya. Sebagai pelengkap, aku mempelajari bahasa Arab. Sebelumnya bahasa Perancis sudah aku pelajari, dan mempelajari bahasa Arab sungguh sangat berbeda.

Aku dituntut untuk mempelajari ajaran Islam dalam kelas dan juga tugas-tugas kuliah. Ternyata hal itu memberi pengaruh yang penting bagiku. Semakin banyak membaca tentang Islam, semakin menarik bagiku. Karena tidak mengetahui apa kelemahan Islam, maka aku berusaha menggalinya lebih dalam dan lebih dalam. Aku membaca buku-buku yang ditulis oleh orang Islam dan juga non-Muslim.

Yang aku dapati ternyata, agama itu mengajarkan moral, hampir sama seperti yang diajarkan orangtuaku. Percaya kepada Tuhan, menghargai orang lain, kejujuran, kesopanan, kedermawanan dan kehormatan.

Sesuatu yang baru bagiku adalah semua nilai-nilai itu terintegrasi menjadi satu dalam rangkaian yang tidak bersambung dalam kehidupan. Ajaran Islam sangat mulia, lembut dan mudah dipahami.

Aku memberi waktu satu tahun untuk memastikan keputusan yang akan kuambil dan mempelajari lebih banyak tentang kepercayaan Islam dan prakteknya, sebab pengetahuanku masih kurang. Mengucapkan kalimat syahadat merupakan satu hal yang paling penting dalam hidupku, dan aku harus memastikan mampu memegang komitmen itu selamanya. Setelah belajar selama tiga tahun, melakukan penelitian dan merenung, aku memutuskan untuk memeluk Islam pada musim panas tahun 1989.

Pertanyaan yang paling sering aku terima dari non-Muslim dan juga Muslim adalah “Mengapa kamu pindah agama?” Meringkas keindahan Islam menjadi beberapa baris kata sangatlah tidak mungkin. Ada ribuan alasan, baik kecil maupun besar, mengapa aku memilih menjadi seorang Muslim. Namun, ada tiga alasan mendasar bagiku.

Pertama, keyakinan Islam akan adanya hari pembalasan adalah sesuatu yang sangat menyentuh jiwaku. Setiap laki-laki dan perempuan harus mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya. Hanya amal perbuatannya sendiri. Ia harus mempertanggungjawabkannya dihadapan Hakim Yang Adil tapi Maha Pengampun, yaitu Allah. Aku meyakini bahwa keadilan berdasarkan kasih sayang, merupakan nilai yang amat penting dalam dunia ini, maka mungkinkah keadilan dan kasih sayang itu akan berbeda di kehidupan nanti? Masing-masing kita telah diberi kemampuan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk, dan juga mampu untuk melaksanakan perintah dan juga menjauhi larangan. Menurut Islam, setiap perbuatan dan niat mempunyai tujuan.

Kedua, aku menemukan banyak kesamaan nilai moral dari berbagai agama. Namun, Islam mampu menjawab banyak pertanyaan tentang masalah ketuhanan yang aku miliki. Di antaranya tentang keesaan Allah, bisanya seorang Muslim berhubungan langsung dengan Allah tanpa perlu perantara seorang alim atau pendeta, dan semua masalah yang berhubungan dengan kitab suci.

Ketiga, Al-Qur’an terjaga keasliannya dalam bahasa Arab sejak zaman Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, berbeda dengan kitab-kitab lain. Masalah ini bukan sekedar masalah menyampaikannya kepada orang lain yang berbeda bahasa, yang kemungkinan ada sesuatu yang hilang dalam proses penyampaiannya dari satu orang ke orang lain. Seluruh Muslim mempunyai akses langsung untuk mempelajari, memahami, dan mengikuti tuntunan Allah yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Sejak aku memeluk Islam, pengetahuan dan pemahamanku tentang agama ini semakin bertambah, meskipun demikian harus kuakui bahwa pengetahuanku baru menyentuh permukaan dari ilmu Islam yang begitu luas dan dalam. Aku semakin memahami adanya keanekaragaman masyarakat Muslim di seluruh dunia, perbedaan pandangan dan pendapat-pendapat mereka. Ini sungguh berbeda dengan apa yang berusaha aku lakukan ketika belum memeluk Islam, yaitu berusaha untuk meringkas pengetahuan tentang Islam agar mudah untuk memahaminya.

Sekarang aku mengambil cara yang sama sekali berbeda. Aku berusaha melihat bagaimana Islam menampilkan semua keberagaman yang ada. Sebuah kepercayaan yang bisa diterapkan kapan saja dan untuk seluruh orang di manapun berada, dengan segala keberagamannya. Dari sudut pandang seorang yang “menjadi Muslim karena kemauan sendiri”, aku menyatakan inilah waktunya bagi Islam, dan inilah waktunya untuk menjadi seorang Muslim.[di/tp/hdytllh]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.