Meningkat Jumlah Atheis di Inggris

Angka pengikut Atheis di Inggris dikabarkan terus meningkat. Banyak orang keluar dari Kristen. Sementara Islam terus berkembang

Sekitar 100.000 orang Inggris dikabarkan men download Certificate of de-Baptism dengan menyatakan dirinya keluar dari agama Kristen melalui internet. Inisiatif tersebut muncul dari kelompok yang menamakan dirinya National Secular Society (NSS). Mereka juga rajin mengkampanyekan gagasannya lewat iklan di bus-bus umum di London dengan tulisan profokatifnya Mungkin Tuhan Tidak Ada. Jangan Khawatir dan Nikmati Hidup Anda.

Kami juga mencetak sertifikat dari kertas kulit dan sampai sekarang sudah terjual 1.500 lembar, selembarnya seharga 3 pounds, tutur Presiden NSS Terry Sanderson (58).

John Hunt,58, mengaku tertarik dengan kampanye ini karena dia merasa masih terlalu kecil pada saat dibabtis. Saat itu dia berusia lima tahun.

Hunt meminta seorang pendeta untuk menghapus namanya di Gereja Inggris. Mereka bilang bahwa prosedur pengahapusan nama harus memasang pengumuman di harian London Gazette, kata Hunt menirukan salah seorang pendeta.

Begitulah mereka memberi peraturan, saya dan beberapa orang harus mematuhi peraturan di gereja dengan memasang iklan pernyataan keluar dari baptis di harian London Gazete.

Michael Evans,66, menilai pembabtisan terhadap anak-anak kecil sebagai bentuk pelecehan anak danketika dia menanyakan kapan saya dibaptis mereka malah menyuruh saya untuk menanyakan kepada Pengadilan HAM Eropa.

Gereja Inggris menyatakan bahwa pihaknya tidak berwenang untuk menghapus catatan baptis seseorang. Pernyataan keluar dari baptis adalah urusan antara individu dengan Tuhan, tutur juru bicara gereja kepada AFP.

Penyelenggara kampanye de-bapstisme ini menyatakan bahwa tindakannya sebagai respon terhadap semakin ketatnya peraturan gereja seperti yang tampak dari pernyataan Paus Benediktus XVI dalam kunjungannya ke Afrika bahwa kondom dapat menyebarkan penyakit.

Perilaku politis Gereja Katolik saat ini sedang menemukan momentumnya dari situlah akar masalahnya, tutur Sanderson. Di negara-negara mayoritas Katolik terdapat keinginan untuk memberi pelajaran kepada gereja dengan cara meninggalkan mereka.

Di sebuah negara dengan 72 persen penduduknya menyatakan dirinya Kristen, namun karena banyak kekecewan yang menyebabkan mereka mendukung upaya pergerakan de-baptism.

Pakar Theologi Paul Murray dari Universitas Durham menyatakan tidak setuju dengan kesimpulan tersebut. Itu bukanlah pengalaman yang saya alami, tuturnya. Namun dia mengakui ada perubahan terhadap iman orang Kristen sekarang.

Kita hidup di suatu masa dimana Katolikisme dan kepercayaan lainnya diperdebatkan publik secara sejajar dengan para penganut pluralis dan sekularis, imbuhnya.

Kampanye de-baptism ini sudah melewati batas negara.

Di Spanyol, Mahkamah Agung memenangkan tuntutan status seorang pria dari Valencia bernama Manuel Blat yang menyatakan dirinya telah keluar dari Baptis.

Di Italia, the Italian Union of Rasionalist and Agnostic (UAAR) memenangkan tuntutan mereka atas hak untuk keluar dari baptis pada tahun 2002. Dalam situsnya mereka juga bersedia membantu orang-orang yang ingin keluar dari baptis dengan menulis di sebuah kolom yang tersedia.

Menurut sekretaris UAAR Raffaelle Carcano, hingga saat ini formulir yang ditampilkan di situsnya telah diunduh oleh 60.000 dalam empat tahun terkahir ini. Dia mengaku sekurang-kurangnya 2000 orang setiap bulan menulis formulir De-Baptism.

Di Argentina kelompok sekularis mengajak murtad bersama dengan mengusung slogan de-baptisme dengan Tidak atas nama saya.

Sanderson meminta kepada negara-negara Eropa lainnya untuk melegalkan aksi tersebut.

Dukungan Nyata

Sementara di saat banyak pemeluk Kristen Inggris menyatakan keluar dari agamanya, kaum Muslim Inggris dikabarkan banyak memberikan andil nyata bagi Negara itu.

Sebelum ini, Juru Bicara Pemerintah Inggris untuk Kawasan Arab, Jon Wilks mengungkapkan bahwa generasi muda Muslim di Inggris memiliki karir yang menjanjikan baik di pemerintahan maupun sektor swasta. Pernyataan Wilks itu menunjuk kepada kondisi saat ini dimana generasi muda Muslim Inggris telah berhasil menempati sejumlah pos penting di kementerian luar negeri, parlemen, angkatan bersenjata dan di sejumlah perusahaan besar.

Kontribusi kaum Muslim pernah juga disampaikan Menteri Dalam Negeri Inggris Jacqui Smith yang mengatakan bahwa di Britania diperkirakan ada 10 ribu warga muslim yang masuk jajaran jutawan Inggris. Smith menambahkan bahwa komunitas Muslim secara keseluruhan memberikan kontribusi sebesar 3,1 miliar pounds per tahun bagi perekonomian Inggris.

Kontribusi warga muslim Inggris tidak terbatas pada kegiatan ekonomi saja, tetapi juga mencakup berbagai bidang yang lain. Di pentas politik misalnya, dengan jumlah sekitar dua juta jiwa, komunitas Muslim Inggris berperan baik di parlemen maupun di pemerintahan lokal.

Kaum Muslim juga telah menempati dan pernah duduk di pos pemerintahan. Diantara mereka adalah; Shahid Malik, yang menjabat sebagai menteri yang mengepalai Departemen untuk Pembangunan Internasional dan Sadiq Khan yang duduk menjadi pemerintah yang bertanggung jawab mengurus hubungan pemerintah dengan parlemen.

Menurut data dari organisasi-organisasi Islam Inggris, hingga saat ini ada sekitar dua juta kaum Muslim di Negara itu. Jika dibadingkan dengan sensus 2001, kabarnya telah terjadi peningkatan jumlah Muslim sebesar 400 ribu jiwa. Menteri Dalam Negeri Inggris Jaqcui Smith Smith mengakui adanya penambahan jumlah komunitas muslim rata-rata sebesar 50 ribu jiwa per tahun. [cha, berbagai sumber/hidayatulah]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.