TERIAK SEORANG DOKTER… Biarkan Saya ke Gaza…!

http://www.palestine-info.info/Ar/DataFiles/Contents/Files/gallery/2009/caricature2009/mawt-1.jpg

Rafah (Mesir)- selama tiga hari, Muhammad al-Khalidi berdiri beberapa meter dari pintu gerbang penyeberangan Rafah dengan Jas putih di tangannya, dan ketika melihat selintas seorang penanggung jawab Mesir mendekat pintu penyebrangan tersebut, dia pun bersama sepuluh temannya segera menghampirinya dan memintanya untuk menyetujui mereka masuk ke Gaza demi menyelamatkan saudara-saudara mereka rakyat Palestina yang sengsara yang bersembunyi di bawah hujan misil-misil dan bom-bom Israil sejak dua belas hari yang lalu.

Khalidi adalah salah satu dari ratusan dokter yang diutus ke Mesir dalam upaya agar dapat masuk melalui pintu penyeberangan Rafah ke Jalur Gaza untuk membantu meringankan beban para korban yang terluka akibat serangan/ agresi Israel yang telah menewaskan lebih dari 800 lebih rakyat Palestina dan melukai lebih dari 3.100 korban luka-luka, yang mayoritas mereka memerlukan operasi bedah sesegera mungkin.
“Please .. Saya seorang dokter, saya ingin masuk ke Gaza sebagai tanggung jawabku, ijinkan saya untuk melakukan itu,” sebuah permohonan yang langsung dibalas dengan penolakan dari Penanggung jawab Pintu penyeberangan (Mesir) dengan dalih bahwa situasi di Gaza saat ini bahaya untuk kehidupan dokter sukarelawan.
Khalidi Seorang dokter spesialis bedah otak dan saraf mengatakan kepada “Islam Online. Net”: “Bahwa apa yang terjadi di Gaza, membuat setiap dokter tidak sanggup berdiri hanya untuk menonton,” dia menambahkan: “Apakah Anda pikir kami dapat menunggu di rumah untuk menonton kejahatan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina tanpa melakukan apapun .. .. tidak….kami akan masuk ke Gaza!” Dia juga menambahkan, “Pemerintah Mesir melarangku masuk melalui jalur darat

Sejak awal agresi Israel, Team medis di Jalur Gaza mengalami kekurangan personil spesialis yang menangani para korban cedera perang, sebagaimana tidak adanya fasilitas yang memadai untuk menangani kondisi kesehatan yang terpuruk di jalur Gaza yang terblockade sejak dua tahun yang lalu, seperti yang diminta oleh Badan kesehatan di Gaza kepada instansi-instansi terkait untuk mendatangkan dokter-dokter dari Arab guna menyelamatkan korban luka-luka
Khalidi menuturkan, “Ada 500 dokter Jordan yang jika mereka tahu saya dapat melintas ke Gaza, maka mereka akan mengikuti saya dengan segera. Yang sedikit inilah yang dapat kami persembahkan. [alsofwah]

Tak ada tempat aman bagi anak-anak di Gaza. PBB menyebut, sudah 257 anak terbunuh, 1080 terluka sejak serangan ganas Israel Tubuh-tubuh kecil terbaring kaku terbungkus kain kafan putih. Wajah tak berdosa seorang anak pra-sekolah yang sudah mati menyembul dari reruntuhan puing-puing rumahnya. Seorang pria meratapi anak laki-laki yang terluka di UGD setelah Israel menghancurkan sebuah sekolah PBB.

Inilah korban sebuah perang sesungguhnya. Dalam perang Israel-Hamas, anak-anak yang berjumlah lebih dari separuh penduduk Gaza menjadi korban yang paling tak berdaya. Foto Kaukab Al Dayah yang berusia 4 tahun, dengan tangan menutup kepalanya dari reruntuhan rumahnya, muncul di berbagai halaman depan media massa dunia Arab, Rabu (7/1).

”Ini Israel” demikian judul harian Mesir Al-Masry Al-Youm. Anak pra-sekolah ini terbunuh Selasa dini hari ketika sebuah F-16 menyerang rumah berlantai empat milik keluarganya di kota Gaza. Dalam peristiwa itu, empat orang dewasa juga tewas.

Menurut angka yang dikeluarkan PBB, Kamis (8/1), sebanyak 257 anak terbunuh dan 1080 terluka–sekitar sepertiga dari korban jiwa sejak 27 Desember 2008.

Sementara itu, dari Gaza dilaporkan, seorang pria dengan bocah lelaki yang terluka dipelukannya, terlihat berlari menuju rumah sakit, Kamis (8/1). Suasana kacau tampak jelas setelah penyerangan Israel ke sekolah-sekolah yang dikelola PBB. Sedikitnya 50 siswa dilaporkan tewas akibat insiden penyerangan sekolah.

Kaukab menjadi korban saat pesawat F-16 Israel menyerang Gaza, Selasa (6/1), menghancurkan rumah keluarganya. Bersama Kaukab juga tewas empat orang dewasa, dua di antaranya adalah orangtua dan keluarganya yang lain.

Iyad Sarraj, seorang psikolog yang tinggal bersama empat anak angkatnya di sebuah apartemen di Gaza, mengatakan, banyaknya anak-anak yang menjadi korban, memperlihatkan tidak ada lagi tempat yang aman di setiap sudut Gaza, di mana para orangtua pun tidak mampu melindungi anak-anak mereka.

Israel mengklaim, penyerangan yang dilakukan adalah terhadap pejuang Hamas, sebagai jawaban atas serangan roket yang dilakukan Hamas ke Selatan Israel. Namun realitasnya, banyak pihak mencatat, warga sipil tidak dapat melarikan diri dari blokade Gaza dan wilayah yang menjadi sasaran penyerangan Israel adalah permukiman sipil.

Militer Israel menggunakan tank, kendaraan artileri, dan pesawat tempur.

Kendati demikian, sebagian anak-anak Palestina tidak takut. Pada sebuah kamp pengungsian di Shati, 10 bocah lelaki sedang bermain sepakbola di lapangan, saat sebuah bom dari kapal Israel menghantam penjara Hamas, yang berada dekat dengan bocah-bocah itu bermain.

Mendengar suara ledakan, salah satu bocah bersiul untuk memberi tanda agar menghentikan permainan. Para bocah itu segera mencari perlindungan, dengan bersembunyi di balik dinding bangunan terdekat. Setelah beberapa menit, mereka kembali melanjutkan permainan.

“Kamu kira kami tidak takut? Tentu saja kami sangat takut. Tapi, kami tidak bisa berbuat apa pun lagi, kecuali bermain,” kata seorang dari bocah itu yang berusia paling tua, Sami Hilal (14). Dia keluar dari rumah kakeknya secara diam-diam, untuk bertemu teman-temannya, agar kakeknya tidak khawatir akan dirinya.

Rumah kakeknya itu juga dipenuhi banyak keluarganya yang mengungsi dari tempat lain, yang lebih berbahaya. Seorang bocah lainnya, Yaser (13), memilih tidak berusaha mencari perlindungan, sebaliknya melambaikan tangan pada kapal Israel tak berawak. “Tidak ada yang bisa kita lakukan. Bahkan, jika kita melarikan diri ke sana atau ke situ, peluru mereka lebih cepat dari kami,” ucapnya.

Kenyataan itu menggambarkan betapa seluruh wilayah Gaza telah menjadi wilayah berbahaya. Anak-anak tewas saat berada di rumah mereka, di kendaraan bersama orangtuanya, ataupun yang sedang bermain di jalan-jalan, di toko, bahkan di tempat perlindungan yang dikelola PBB.

Sayed (12), Mohammed (8), dan Raida Abu Aisheh (7), ada di rumah bersama orangtua mereka, saat serangan udara Israel terjadi, Senin (5/1) dan belakangan diketahui menewaskan satu keluarga itu.

Tak Ada Tempat Aman

Hal yang paling sulit bagi anak-anak ini adalah perasaan bahwa tak ada lagi tempat yang aman dan orang dewasa tidak dapat melindungi mereka, kata Iyad Sarraj, seorang psikolog yang bersembunyi di apartemennya di kota Gaza dengan empat anak tirinya yang berusia 3 hingga 17 tahun. Putranya, Adam (10), begitu ketakutan selama serangan bom dan asmanya kambuh, kata Sarraj.

Israel mengatakan serangan mereka menargetkan Hamas dalam menjawab serangan roket yang berulang di Israel selatan dan melakukan segala hal untuk menghindari kematian sipil. Namun, ucapan Israel ini tentu saja sulit diwujudkan. Dalam sebuah perang, apalagi perang di dalam kota, warga sipil pun tak bisa menghindar dari peluru, bom ataupun roket yang ditembakkan. Menurut pejabat misi kemanusiaan asing, warga sipil tak dapat meloloskan diri dari Gaza yang terkepung dan mengebom kawasan padat pastilah menyebabkan banyak korban sipil. Militer Israel menggunakan tank dan granat artileri, juga bom-bom udara.

Di kamp pengungsian Shati di Mediterrania, sepuluh anak laki-laki sedang bermain sepakbola di sebuah lorong, Kamis, ketika granat dari sebuah kapal meriam menghantam area dekat penjara Hamas. Ketika ledakan terdengar, salah satu anak tertua bersiul, sebuah pertanda permainan harus dihentikan dan mereka segera merapat ke tembok. Setelah satu atau dua menit, permainan dilanjutkan.

Samih Hilal (14) mengatakan ia mengendap-endap ke luar rumah kakeknya. Ia dilarang bermain di luar oleh ayahnya yang cemas. Rumah yang ia tinggali penuh dengan kerabat yang melarikan diri dari kawasan yang lebih berbahaya, katanya. Ia tidak bisa berdiam diri selama berjam-jam.

”Anda pikir kami tidak takut? Ya, kami takut. Tapi kami tidak punya apa-apa selain bermain,” kata Samih.

Anak laki-laki lain, Yasser berusia 13 tahun, melambai-lambai ke arah pesawat-pesawat Israel tanpa awak, dengan bahasa tubuh menantang. Ia tidak berusaha mencari perlindungan dari hujan granat.

”Tak ada yang bisa kami lakukan. Bahkan jika kami berlari ke sana dan kemari, bom-bom mereka lebih cepat ketimbang kami,” katanya.

Yasser benar, tak ada tempat aman di Gaza. Anak-anak bisa saja terbunuh di rumah mereka, atau selagi menumpang mobil dengan orangtua, atau saat bermain di jalanan, berbelanja, atau bahkan di tempat perlindungan PBB.

Yang dibutuhkan anak-anak itu kini adalah kebijaksanaan dari pihak-pihak yang bertikai untuk berdamai, memberi ruang untuk mereka agar tumbuh dengan baik, hidup tanpa dendam yang tak berkesudahan demi membalas kematian orang-orang yang mereka cintai.

Tubuh-tubuh kecil mereka perlu berkembang di ruang yang sehat, tanpa ketakutan akan peluru-peluru yang meluncur deras dan mengenai mereka. Sesungguhnya, korban dari sebuah perang adalah anak-anak. [hidayatullah]

demo Tim Ambulan di Gaza: Maaf … Kami Tidak Bisa Menolong Kalian

Darah mengalir dari seluruh tubuhnya. Setiap kali demamnya terus meningkat dan suara kesakitan semakin meninggi. Ibunya menangis perih. Saudara perempuannya meratap keras, menghubungu stasiun radio local. Yang lain memanggil Palang Merah. Yang ketiga menyeru mobil-mobil ambulan … Dan yang kesepuluh meminta-minta organisasi HAM. Jawabannya hanya satu: Sayang sekali, kami tidak bisa sampai ke tempat kalian … maafkan kami!

Beberapa jam kemudian setelah teriakan orang-orang lemah yang tidak berbuat apa-apa, Hamid Abu Aker mengembuskan nafasnya yang terakhir. Dia berangkat dengan segala ungkapan dan ekspresi. Tidak ada yang tertinggal kecuali linangan air mata yang deras dari para mata yang sock dan terguncang akibat perang yang menggila. Perang yang telah memutuskan untuk membantai kemanusiaan, tiada yang tersisa dari segala kosakata kemanusiaan.

Penderitaan keluarga Abu Aker tidak berakhir hingga di sini. Jasad Hamid tergeletak membujur kaki di hadapan mereka selama berjam-jam. Dan berjam-jam itu berubah menjadi berhari-hari. Mayat itu mulai terurai, bau bangkai memenuhi tempat. Tak seorangpun berani membuka pintu, sekedar untuk mendapatkan udara baru. Takut dan mengerikan!

Dengan suara yang telah kehilangan rambunya, saudara perempuan Hamid menuturkan apa yang terjadi di rumah mereka yang berada di ujung utara Jalur Gaza. Dia mengatakan, “Tiga hari yang lalu gempuran dahsyat menghantam rumah-rumah sekitar kami. Kami terkena sasaran salah satu mortir yang ditembakan tank-tank Israel. Saudaraku jatuh tersungkur berdarah-darah. Kami menghubungi tim ambulan dan dengan segala cara yang lain. Namun tidak ada yang bisa merespon!”

Setelah meratap keras, dia melanjutkan penuturannya. “Dia terus berlumuran darah tanpa henti sampai akhirnya meninggal dunia. Kami sama sekali tidak berani melihat keluar melalui jendela, apalagi keluar. Itu artinya kebinasaan buat kami. Hari ini, setelah tiga hari dia meninggal dunia, sebuah mobil ambulan berhasil masuk ke daerah ini dan mengeluarkan mayatnya.”

Dengan rasa pedih dan sakit, dia melanjutkan lagi. “Semua kata-kata tidak bisa untuk mengungkapkan kebiadaban mereka (Israel). Apa yang terjadi adalah perang pemusnahan etnis. Seakan kami tidak percaya bahwa kami adalah manusia.”

Dan masih banyak rumah di utara dan timur Jalur Gaza meneriakkan suara minta tolong untuk menyelamatkan korban-korban luka mereka dan mengeluarkan mayat-mayat dari keluarga mereka yang sudah meninggal. Dan ketika mobil-mobil ambulan atau Palang Merah mulai bergerak, desingan-desingan peluru dan missil maut memburu di atas kepala-kepala mereka.

Seruan Keluarga Zaqut

??? ????????? ?????? ???????? ?????? ?? ????

Di salah satu siaran stasiun radio local, terdengan suara Ummu Ra’fat Zaqut. Wanita yang tinggal bersama keluarganya di kampung Zaitun, timur Gaza, ini meminta dengan penuh iba kepada mobil ambulan untuk mengevakuasi suaminya yang terluka dan anaknya yang berdarah-darah. Sesaat kemudian terdengar suara penyiar radio yang mengatakan: tim-tim medis tidak bisa sampai ke lokasi-lokasi yang membara.

Beberapa jam setelah Ummu Ra’fat menghubungi stasiun radio tersebut, radio yang sama menyiarkan berita yang bersifat segera: seruan dari keluarga Zaqut, dua orang gugur dari keluarga setelah mobil-mobil ambulan gagal sampai ke mereka dan menyelamatkan nyawa mereka.

Israel terus melancarkan pembantaian biadab terhadap warga sipil Palestina yang terisolasi, yang tidak memiliki daya dan kekuatan apapun. Pesawat-pesawat maut Israel melumatkan puluhan rumah keluarga-keluarga Palestina secara total. Membunuh anak-anak kecil dan orang dewasa dengan darah dingin.

Abu Imad Zarqah, warga Palestina ini tinggal di ujung timur Jalur Gaza. Dia menceritakan salah satu kesaksian yang mengerikan. Katanya, “Keluarga Sabt terdiri dari 5 orang anggota keluarga. Misil Israel yang menghantam rumah mereka mencederai ibu dan ayah. Mereka bercucuran darah hingga mati di depan mata ketiga anaknya yang masih kecil. Teriakan mereka yang terakhir keluar di dekat anak-anak mereka yang masih polos tanpa dosa.”

Dengan suara berat penuh sedih, Abu Imad melanjutkan, “Kami tetangga mereka sama sekali tidak berani maju walau selangkah mendekati mereka. Empat hari, setelah tank-tank maut Israel mengurangi intensitasnya menebar kematian, kami datang ke sini dan menemukan anak-anak ini dalam kondisi mengerikan. Yang paling kecil, usianya tidak lebih dari 2 tahun, berada di tempat ini bersama kedua kakaknya yang juga masing kecil, selama empat hari tanpa makan dan minum.”

Abu Imad akhirnya tidak bisa mengendalikan diri. Dengan keras dia berteriak, “Mereka pembunuh. Mereka tumbuh dengan melihat darah-darah kami dan teriakan-teriakan tersiksa kami. Mereka menembakkan misiu-misiu mautnya tanpa ampun dan belas kasihan.”

Di timur Gaza, keluarga Hadad yang terdiri dari 6 anggota keluarga mengalami blockade selama 4 hari. Di antara mereka ada korban meninggal selama 24 jam dan korban luka dalam kondisi kritis sebelum diselamatkan tim penolong. Mereka tidak memiliki apa-apa. Tidak ada air, tidak ada makanan dan tidak ada listik!

Bocah-bocah Tanpa Dosa di Samping Mayat Ibu-ibunya

Palang Merang Internasional, Kamis (08/01), mengatakan para relawan tim penolong menemukan 4 orang bocah yang sedang kelaparan. Mereka duduk di samping ibu-ibunya yang sudah tidak bernyawa. Relawan juga menemukan mayat lain di rumah-rumah yang dihancurkan pasukan militer Israel di kotaGaza.

Dalam pernyataan yang salinannya diterima koresponen Infopalestina, Palang Merah Internasional menegaskan pihaknya telah meminta jaminan lalu-lintas yang aman agar mobil-mobil ambulan bisa sampai ke kampung Zaitun ini sejak 3 Januari lalu. Namun sama sekali tidak mendapatkan izin dari militer Israel kecuali, Rabu (07/01) siang.

Menurutnya, “Tim gabungan antara Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Palestina menemukan di sebuah rumah 4 orang bocah yang sedang duduk di sisi jasad ibu mereka. Mereka gemetar, kondisinya sangat lemah. Sehingga untuk berdiri saja mereka tidak mampu.” Sementara itu anggota tim gabungan menemukan seorang laki-laki yang masing hidup bersama 12 jasad korban lainnya yang sudah meninggal.

Di rumah yang berbeda tim relawan menemukan 15 orang lain yang selamat dari serangan Israel, di antara mereka ada beberapa yang terluka. Di rumah yang lain juga ditemukan 3 jasad korban yang sudah meninggal. Kondisinya sangat mengenaskan.

Kepala Delegasi Palang Merah Internasional di Palestina, Bayer Fitash mengatakan, “Ini adalah peristiwa yang mengerikan. Dipastikan pasukan militer Israel mengetahui kondisi ini namun tidak mau memberikan bantuan kepada korban yang terluka. Mereka juga tidak mengizinkan kami dan Bulan Sabit Merah membantu mereka.”

Fitash menambahkan, “Tembok tinggi dari tanah yang didirikan militer Israel menghalangi mobil-mobil ambulan untuk sampai ke kampung tersebut. Untuk itu, kami terpaksa membawa anak-anak dan korban luka ke mobil ambulan dengan menggunakan gerobak yang ditarik keledai.”

Dia melanjutkan, “Tim gabungan dari Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Palestina berhasil mengevakuasi 18 korban luka dan 12 lainnya yang kondisinya sangat lusuh dan kotor. Tim gabungan juga berhasil mengevakuasi dua jasad korban yang meninggal.”

Fitash mengisyaratkan, Palang Merah Internasional tahu bahwa di sana ada korban luka lain yang bersembunyi di rumah-rumah yang hancur di kampung Zaitun. Pihaknya meminta militer Israel memberikan jaminan keamanan kepada timnya dan mobil ambulan Bulan Sabit Merah Palestina untuk lewat dengan aman agar bisa masuk ke kampung tersebut untuk mencari korban luka yang lain.

Sampai saat ini Palang Merah Internasional belum mendapatkan kepastian apapun dari otoritas Israel untuk memberikan kemudahan dalam hal ini. Pihaknya menilai militer Israel telah mengingkari janji kewajibannya sebagaimana ditegaskan dalam hukum kemanusiaan internasional yang mengharuskan Israel memberikan perlindungan kepada korban luka dan mengevakuasi mereka. Penundaan pemberian izin kepada tim penolong untuk masuk ke kampung tersebut adalah hal yang tidak bisa diterima. [infopalestina]

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *