Mutiara Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah Tentang Amal Yang Paling Berat

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah tentang amal yang paling berat:

“Amal yang paling berat ada tiga:

Dermawan ketika memiliki sedikit harta,

Bersikap wira’i ketika sendirian,

Dan mengatakan yang benar dihadapan orang yang diharapkan kebaikannya dan ditakutkan kemarahannya.”

(Ma’alim Fit Tarbiyah Wad Dakwah, Mawa’idh Al-Imam Asy-Syafi’i, Penyusun Sholih Ahmad Asy-Syami, hlm 9, Maktabah Syamilah)

Penjelasan:

Ada tiga macam amalan yang paling berat bagi kebanyakan manusia karena begitu sulit mengamalkan dan mempraktekkannya.

  1. Dermawan ketika memiliki sedikit harta. Hal ini sangat sulit bagi kebanyakan manusia karena orang yang memiliki harta saja kebanyakan kikir, pelit dan tidak dermawan, bagaimana pula dengan orang yang memiliki sedikit harta? Karena itu, orang yang dermawan ketika memiliki sedikit harta adalah bukti kemuliaan jiwa, baiknya pekerti dan bersihnya hati pelakunya.

  1. Bersikap wira’i ketika sendirian. Hal ini sangat sulit bagi kebanyakan manusia karena biasanya manusia bersifat baik, menjaga diri dan menampakkan ketakwaan ketika dihadapan orang lain dan berubah menjadi tidak baik dan tidak bertakwa ketika sendirian dan tidak ada orang lain. Karena itu, orang yang bersikap wira’i (wara’ atau menjaga diri atau bertakwa) ketika sendirian dan tidak sedang dihadapan orang lain adalah bukti keikhlasan dan kejujuran pelakunya.

  1. Mengatakan yang benar dihadapan orang yang diharapkan kebaikannya dan ditakutkan kemarahannya. Hal ini sangat sulit bagi kebanyakan manusia karena biasanya manusia cenderung untuk takut mengatakan yang benar apabila hal itu akan menyinggung perasaan orang yang biasa membantunya dan berjasa atasnya, yaitu orang yang kita mengharapkan kebaikan-kebaikan darinya. Juga manusia cenderung untuk tidak berani mengatakan yang benar dihadapan orang yang ditakutkan kemarahannya karena khawatir keburukan yang akan ditimpakan kepadanya. Karena itu, orang yang mengatakan yang benar dihadapan orang yang diharapkan kebaikannya dan ditakutkan kemarahannya adalah bukti keberanian, keikhlasan dan sifat ksatria pelakunya.

Semoga Allah mudahkan kita untuk mengamalkan ketiga-tiganya sehingga kita menjadi orang yang mulia jiwa, baik pekerti, bening hati, ikhlas, jujur, berani dan ksatria, amien…

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *