SHALAT TARAWIH

QIYAM RAMADHAN atau SHALAT TARAWIH

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami

Syari’at Shalat Tarawih

Tarawih adalah shalat yang dilakukan malam hari secara berjama’ah pada bulan Ramadhan dan waktunya dimulai setelah shalat ‘Isya’ sampai terbitnya fajar (Subuh).

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam sangat menganjurkan agar kita melaksanakannya sebagaimana sabda beliau: “Barangsiapa melakukan qiyam (shalat malam) pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, tarawih adalah termasuk qiyam Ramadhan (shalat malam) pada bulan Ramadhan. (“Majalis Syahr Ramadhan” hlm 30. Karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin)

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam adalah yang pertama kali melakukannya secara berjamaah di masjid lalu beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam meninggalkannya karena khawatir diwajibkan atas ummatnya, sebagaimana diriwayatkan ibunda Aisyah –radhiallahu anha, “Bahwasanya Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam shalat di masjid pada suatu malam dan beberapa sahabat mengikuti shalat beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, kemudian beliau shalat pada hari berikutnya dan yang mengikuti semakin banyak, kemudian para sahabat berkumpul pada malam ketiga atau keempat lalu Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam tidak keluar kepada mereka. Keesokan harinya beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Aku telah mengetahui apa yang kamu lakukan (semalam), dan tidak menghalangiku untuk keluar kepadamu melainkan karena aku khawatir diwajibkannya atasmu.” Dan ini terjadi pada bulan Ramadhan.
(HR. Bukhari dan Muslim. Lihat “Majalis Syahr Ramadhan” hlm 31. Karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin).

 

Jumlah Raka’atnya

Para salafush shaleh berbeda pendapat tentang jumlah raka’at shalat tarawih sekaligus witirnya, namun yang sunnah adalah sebelas raka’at dengan salam pada setiap dua raka’at, karena ibunda ‘Aisyah –radhiallahu anha pernah ditanya tentang bagaimana shalat Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam pada bulan Ramadhan? Beliau menjawab: “Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam tidak menambah pada bulan Ramadhan dan selainnya atas sebelas raka’at.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Sa’ib bin Yazid (sahabat), bahwasanya Umar Ibnul Khaththab –Radhiallahu ‘Anhu memerintahkan kepada Ubaiy bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dariy –Radhiallahu ‘Anhuma untuk menjadi imam manusia (shalat tarawih) dengan sebelas raka’at.

Walaupun demikian, jika lebih dari sebelas raka’at tidaklah mengapa karena Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam pernah ditanya tentang shalat malam, maka beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjawab: “Shalat malam itu dua, dua (tanpa batas). Jika seorang dari kamu khawatir masuk waktu Subuh hendaklah shalat satu raka’at sebagai witir shalatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Yang paling afdhal dan sempurna adalah sebagaimana bilangan raka’at yang terdapat dalam sunnah, yaitu sebelas raka’at yang dikerjakan dengan khusyu’, tenang dan panjang yang tidak sampai memberatkan manusia.
(“Majalis Syahr Ramadhan” hlm 27-33. Karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin. Dan “Fushul Fi Ash-Shiyam wa At-Tarawih wa Az-Zakah” hlm 17-19, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin)

Hendaklah seseorang tidak meninggalkan shalat tarawih dan pergi sebelum imam selesai daripadanya dan dari shalat witir agar supaya mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Sesungguhnya seseorang yang shalat bersama imam sampai selesai dicatat baginya shalat seluruh malam.”
(HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban. Al-Albani menyatakan sahih) [www.hatibening.com / www.hatibening.com]

 

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *