HALAL DAN HARAM (Hadis Ke 6 Dari 50)

HALAL DAN HARAM

(Penjelasan Hadis Ke 6 Dari 50 / Arbain Nawawi Plus Tambahan Ibnu Rajab / Hadis-Hadis Inti Ajaran Islam)

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami

Dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir ?Radhiallahu ?Anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam bersabda :
?Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat pekara-pekara yang syubhat ( samara-samar / tidak jelas halal atau haramnya ) yang tiada diketahui oleh kebanyakan manusia.
Barangsiapa yang memelihara dirinya dari pekara-pekara yang syubhat itu, maka dia telah melindungi agama dan kehormatannya dirinya. Dan barangsiapa yang tergelincir ke dalam pekara syubhat itu berarti ia tergelincir masuk ke dalam perkara haram.
Laksana seorang penggembala di pinggir sebuah daerah larangan, yang akhirnya masuk ke dalam daerah larangan itu. Ketahuilah sesungguhnya bahwa setiap raja mempunyai daerah larangan, Ketahuilah, sesungguhnya daerah larangan Allah itu adalah pekara-pekara yang diharamkanNya.
Ketahuilah, dalam setiap tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh itu dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh itu.
Ketahuilah, Itu adalah hati.?
(HR. Bukhari dan Muslim)

Syarh dan Kandungan Hadis:

1. Berkata Ibnu Daqiq Al-?Ied ?rahimahullah: ?Hadis ini adalah salah satu prinsip agung (ushul) dari prinsip-prinsip syari?at.?

2. Berkata Ibnu Rajab ?rahimahullah : ?Halal murni itu jelas dan tidak ada yang samar-samar di dalamnya. Begitu juga haram murni. Namun, diantara kedua hal tersebut terdapat perkara-perkara yang samar-samar bagi kebanyakan manusia, apakah hal tersebut termasuk halal ataukah haram? Adapun orang-orang yang ilmunya mendalam, perkara-perkara tersebut tidak terlihat samar-samar oleh mereka dan mereka mengetahui perkara-perkara tersebut masuk ke dalam kelompok yang mana.?

3. Contoh halal murni: Memakan yang baik-baik dari tanaman, buah-buahan, hewan ternak, meminum minuman yang halal, mengenakan pakaian yang halal, katun atau wol dan lain-lain yang dibutuhkan, menikah, mengambil budak wanita dan lain sebagainya jika seseorang mendapatkan itu semua dengan akad yang benar.

4. Contoh haram murni: Memakan bangkai, darah, daging babi, meminum minuman keras (khamer), menikah dengan wanita-wanita yang haram dinikahi, mengenakan pakaian dari bahan sutra untuk orang laki-laki, penghasilan haram seperti riba, mencuri dan lain sebagainya.

5. Contoh musytabihat (perkara-perkara yang tidak jelas / syubhat): Memakan makanan atau meminum minuman atau memakai pakaian atau mendapat penghasilan yang kehalalan dan keharamannya diperdebatkan, seperti kuda, keledai, biawak, anggur yang apabila banyaknya memabukkan, pakaian dari kulit binatang buas dan jual beli ?inah (seseorang menjual suatu barang dengan pembayaran tunda, kemudian ia membeli barang tersebut dari si pembeli sebelum ia menerima lunas pembayaran tersebut dengan harga kontan yang lebih murah) dan lain sebagainya.

6. Anjuran untuk melakukan yang halal, menjauhi yang haram, meninggalkan yang syubhat dan ihtiyath (bersikap hati-hati) dalam menjaga agama dan kehormatan.

7. Barangsiapa banyak melakukan yang syubhat pasti lambat laun akan terjerumus ke dalam yang haram.

8. Hadis ini adalah merupakan dalil dari kaidah ?saddudz dzaraa?i? ilal muharamaat? (menutup semua jalan menuju yang diharamkan), yaitu dengan mengharamkan semua sarana yang mengarah kepada perbuatan haram, dan kaidah ?dar?ul mafaasid muqaddamun ?ala jalbil mashaalih? (menolak kerusakan didahulukan daripada mendatangkan kebaikan), yaitu dengan menjauhi segala yang dikhawatirkan menjerumuskan walaupun secara lahirnya seakan menyelamatkan.

9. Barangsiapa melepas binatangnya di kebun milik orang lain maka pemilik binatang tersebut menanggung kerusakan yang disebabkan oleh binatang miliknya, menurut pendapat yang sahih.

10. Boleh memberikan perumpamaan-perumpamaan dalam masalah syari?at dengan sesuatu yang nyata agar lebih jelas dan mudah dipahami.

11. Hendaklah kita berhati-hati daripada melakukan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan suu?udh dhan (prasangka buruk) orang lain. Berkata sebagian salafush shalih: ?Barangsiapa membuat dirinya tertuduh, ia jangan menyalahkan orang yang buruk sangka kepadanya.?

12. Seluruh aktifitas seorang hamba yang dilakukan anggota tubuhnya dengan meninggalkan yang haram dan menjauhi syubhat adalah tergantung kebaikan hatinya, karena hati adalah merupakan anggota terpenting dalam tubuh manusia.

13. Yang dimaksud dengan kebaikan hati adalah kebaikan jiwa yang ada didalamnya, yang tidak diketahui oleh siapapun selain Allah.

14. Peran hati terhadap seluruh anggota badan ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Di kemudian hari hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

15. Memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah. Allah berfirman : ?Adalah hari (kiamat) yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qolbun saliim). ?(Q.S. Asy-Syu?ara :88-89)

16. Amalan-amalan hati lebih afdhal daripada amalan-amalan badan, karena amalan badan tidak akan baik kecuali dengan amalan hati.

17. Hati tidak akan menjadi baik sehingga mengenal Allah dengan sebenarnya, yaitu hati dipenuhi dengan pengagungan, cinta, takut, mengharapkan dan tawakkal hanya kepada Allah saja. Inilah hakikat tauhid, laa ilaaha illallaah.

18. Hasil usaha yang halal adalah sangat besar pengaruhnya terhadap kebaikan hati seseorang.

(Bersambung Hadis Ke 7)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.