12 Adab Penuntut Ilmu (2 habis)

Abdullah Saleh Hadrami

Kedelapan: Sabar Dalam Menuntut Ilmu.

(( Hendaklah sabar dalam menuntut ilmu, tidak terputus (ditengah jalan) dan tidak pula bosan, bahkan terus-menerus menuntut ilmu semampunya.
Kisah tentang kesabaran salafus shalih ?Rahimahullah dalam menuntut ilmu sangatlah banyak, sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Abbas ?Radhiallahu ?Anhuma bahwa beliau ditanya oleh seseorang: Dengan apa anda bisa mendapatkan ilmu? Beliau menjawab: ?Dengan lisan yang selalu bertanya dan hati yang selalu memahami serta badan yang tidak pernah bosan.)) ?Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 40 dan 61

(( Bahkan sebagian dari mereka (salafus shalih) merasakan sakit yang menyebabkannya tidak bisa bangun dikarenakan tertinggal satu hadis saja. Sebagaimana terjadi kepada Syu?bah bin al-Hajjaj ?Rahimahullahرia berkata: ?ketika aku belajar hadis dan tertinggal (satu hadis) maka akupun menjadi sakit.?
Barangsiapa mengetahui keutamaan ilmu dan merasakan kelezatannya pastilah ia selalu ingin menambah dan mengupayakannya, ia selalu lapar (ilmu) dan tidak pernah kenyang sebagaimana sabda Rasulullah?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam: ?Ada dua kelompok manusia yang selalu lapar dan tidak pernah kenyang: Orang yang lapar ilmu tidak pernah kenyang dan orang yang lapar dunia tidak pernah kenyang pula.? (HR. Al-Hakim dll dengan sanad tsabit).)) ?Hilyah al-?Alim al-Mu?allim, Syaikh Salim al-Hilaliy hal: 22-23

(( Abu al-?Aliyah -Rahimahullah menuturkan: Kami mendengar riwayat (hadis) dari Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam sedang kami berada di Basrah (Iraq), lalu kamipun tidak puas sehingga kami berangkat ke kota Madinah agar mendengar dari mulut mereka (para perawinya) secara langsung.)) ??Audah ila as-Sunnah, Syaikh Ali Hasan al-Atsariy hal: 44.

Kesembilan: Menghormati dan Menghargai Ulama.

(( Hendaklah para penuntut ilmu menghormati dan menghargai para ulama dan berlapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat diantara mereka serta memberi udzur (alasan) kepada para ulama yang menurut keyakinan mereka telah berbuat kesalahan. Ini adalah masalah yang sangat penting, karena sebagian orang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain untuk menjatuhkan mereka dimata masyarakat. Ini adalah kesalahan terbesar.)) ?Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 41

(( Hendaklah menghormati majlis (ilmu) dan menampakkan kesenangan terhadap pelajaran serta mengambil faedahnya. Apabila seorang syaikh (guru) melakukan suatu kesalahan atau kekeliruan maka janganlah hal itu membuatnya jatuh dihadapanmu, karena hal ini menjadikanmu tidak lagi mendapatkan ilmunya. Siapasih orang yang tidak pernah berbuat kesalahan?.
Jangan sekali-kali memancing kemarahannya dengan ?Perang urat syaraf?, yaitu menguji kemampuan ilmu dan kesabarannya.
Apabila anda hendak berguru ke orang lain maka mintalah ijin kepadanya, karena hal ini menjadikannya selalu menghormatimu, semakin cinta dan sayang kepadamu.)) ?Hilyah Tholibil Ilmi, Bakr Abu Zaid hal: 36.

Kesepuluh: Memegang Teguh Al-Kitab dan As ?Sunnah.

(( Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengambil ilmu dari sumbernya yang tidak mungkin seseorang sukses bila tidak memulai darinya, yaitu:
1- Al-Qur?anul Karim; Wajib bagi para penuntut ilmu untuk berupaya membaca, menghafal, memahami dan mengamalkannya.
2- As-Sunnah As-Shahihah; Ini adalah sumber kedua syariat Islam (setelah al-Qur?an) dan penjelas al-Qur?anul Karim
3- Suber ketiga adalah ucapan para ulama, janganlah anda menyepelekan ucapan para ulama karena mereka lebih mantap ilmunya dari anda )) ?Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 43,44 dan 45.

Kesebelas: At-Tatsabbut dan Ats-Tsabat.

(( Termasuk adab terpenting yang wajib dimiliki oleh penuntut ilmu adalah; At-tatsabbut. Yang dimaksud dengan at-tatsabbut adalah berhati-hati dalam menukil berita dan ketika berbicara.
Adapun ats-tsabat adalah sabar dan tabah untuk tidak bosan dan marah, dan agar tidak mengambil ilmu hanya secuil-secuil saja lalu ia tinggalkan, karena hal ini berdampak negatif dan menyia-nyiakan waktu tanpa faedah.)) ?Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 50.

Keduabelas: Berupaya Untuk Memahami Maksud Allah Ta?ala dan RasulNya ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam

(( Termasuk adab terpenting pula adalah masalah pemahaman tentang maksud Allah Ta?ala dan juga maksud Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam; Karena banyak orang yang diberi ilmu namun tidak diberi pemahaman. Tidak cukup hanya menghapal al-Qur?an dan al-Hadis saja tanpa memahaminya, jadi harus dipahami maksud Allah  dan RasulNya ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam. Alangkah banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh kaum yang berdalil dengan nas-nas yang tidak sesuai dengan maksud Allah Ta?ala dan RasulNya ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam sehingga timbullah kesesatan karenanya. Kesalahan dalam pemahaman lebih berbahaya dari pada kesalahan dikarenakan kebodohan. Seorang yang jahil (bodoh) apabila melakukan kesalahan dikarenakan kebodohannya ia akan segera menyadarinya dan belajar, adapun seorang yang salah dalam memahami sesuatu ia tidak akan pernah merasa salah dan bahkan selalu merasa benar)) ?Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 52.
Inilah sebagian dari adab yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu agar menjadi suri tauladan yang baik dan mendapatkan kesuksesan di dunia dan di akhirat, amien.

Maraji?:
– Al-Qur?anul Karim dan Terjemahnya, hadiah dari Kerajaan Saudi Arabia.
– Kitab Al-Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin -Rahimahullah.
– Hilyah Tholibil Ilmi, karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid ?hafidhahullah.
– Hilyatul ?Alim Al-Mu?allim Wa Bulghatu Ath-Thalib Al-Muta?allim, karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy ?hafidhahullah.
– ?Audah ?Ila As-Sunnah, karya Syaikh Ali Hasan al-Atsariy ?hafidhahullah.
– Washiyyatu Muwaddi?, karya Syaikh Husain bin ?Audah al-?Awayisyah ?hafidhahullah.

(Disampaikan Pada 14 Rabi?uts Tsani 1425 / 23 Mei 2005 Dalam Pengajian Umum INDAHNYA ISLAM 22-24 Mei 2005 di Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya Malang).

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *